Happy Time

Review One More Light

Album yang sangat personal” mungkin itu adalah kalimat yang cocok untuk mewakili penilaian saya terhadap album baru Linkin Park, One More Light secara keseluruhan. Saya tidak ada masalah dengan usaha Linkin Park untuk keluar dari zona nyaman mereka dan mencoba membuat karya yang berbeda, karena hal itu sudah dilakukan dalam beberapa album terakhir mereka. Bagaimana Minutes to Midnight terasa sangat alternative rock dan kentalnya unsur EDM dalam A Thousand Suns, dan kembalinya nuansa rock pada album The Hunting Party.

Secara pribadi, saya mengharapkan album berikutnya dari Linkin Park bisa kembali dengan nuansa rock yang lebih kental tapi dengan pendekatan yang sebaik album One More Light. Secara musik, banyak lagu dalam album ini terasa sangat lemah dan kehilangan sentuhan ala Linkin Park. Untungnya, lirik-lirik yang ditulis dan dinyanyikan terasa sangat dekat dan membuatnya terasa indah.

Nobody Can Save Us

Saat mendengar intro dari lagu pembuka dari One More Light ini, saya pribadi mengira kalau Linkin Park berkolabori dengan Marshmellow dalam album ini. Tapi, ternyata tidak. Karena, bagaimana pun, intronya terasa sangat mirip dengan musik-musik yang diproduksi oleh Marshmellow. Walau terasa sangat pop, tapi setidaknya laguini adalah sebuah lagu pop yang bagus.

Good Goodbye

Linkin Park bekerjasama dengan rapper memang bukanlah hal baru, apalagi pada dasarnya, Mike Shinoda adalahmrapper dalam band ini. Tapi, ini untuk pertama kalinya Linkin Park berkolaborasi dengan rapper lain untuk album studio mereka. Lagu ini terasa cukup mengjutkan bagi saya saat pertama kali mendengarnya, tapi mencermati liriknya ternyata ini termasuk salah satu lagu paling ‘keras’ dalam album ini.

Talking to Myself

Mendengarkan lagu ini pertama kali saat Linkin Park membawakannya di acara khusus di kantor pusat Warner Bros. Awalnya saya kira lagu ini akan cukup nge-rock di album yang katanya hampir semua lagu akan memiliki rasa seperti lagu Heavy. Tapi, setelah mendengarkan versi albumnya, memang ternyata benar rasanya mirip seperti Heavy tapi sepertinya lagu ini akan sangat menyenangkan untuk didengarkan secara live.

Battle Symphony

Suara Chester Bennington terasa sangat tertahan dalam lagu ini, pada beberapa bagian dalam album ini, suaranya seharusnya bisa dibuat lebih ‘marah’ tapi entah kenapa tidak dilakukan. Namun, secara lirik, saya sangat suka dengan lagu ini karena makna liriknya yang dalam multi-representasi.

Invisible

Lagu ini terasa seperti versi soft dari lagu-lagu Fort Minor. Tidak ada yang terlalu istimewa dengan lagu ini secara musikal. Hanya saja, lagu ini ditulis oleh Mike Shinoda  sebagai orangtua dan itu sepertinya menjadi sesuatu yang sangat baru bagi Linkin Park untuk menulis lagu yang lebih personal dan bukan sekedar kemarahan dan rasa benci.

Heavy

“I don’t like my mind right now”, itulah yang saya rasakan saat menulis kata-kata untuk lagu satu ini. Di satu sisi, lagu menerima begitu banyak kebencian saat pertama kali dirilis, bagaimana Linkin Park terasa menjual idealisme mereka demi pangsa pasar yang lebih besar. Dan saya merasakan hal yang sama pada awalnya. Tapi, di satu lain, lagu ini bukanlah lagu yang buruk, punya lirik yang cukup kuat walau musiknya terasa biasa.

Sorry For Now

Tahun 2005, Fort Minor (project sampingan Mike Shinoda) merilis lagu berjudul Where’d You Go dan lagu ini terasa seperti jawaban atas lagu tersebut. Sama seperti Invisible, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa secara musik atau lirik pada album ini, hanya terasa lebih personal dari lagu-lagu lainnya.

Halfway Right

Lagu ini adalah lagu dimana Chester Bennington benar-benar bernyanyi sendirian mengenai sisi gelap masa lalunya. Diiringi oleh musik yang terasa seperti musik hip hop dan permainan drum. Tidak ada yang istimewa, hanya terasa personal.

One More Light

Menjadi judul dari album ini, tentu lagu ini sangat istimewa. Seperti apa yang dikatakan oleh Mike Shinoda jauh-jauh hari tentang lagu ini, lagu ini sangat-sangat-sangat akustik. Menurut wawancara dengan Linkin Park, lagu ini menceritakan pengalaman pribadi kehilangan seorang teman dekat dan hal itu membuat lirik lagu ini terasa sangat indah dan personal.

Sharp Edges

Musik folk-rock/country pada lagu ini sepertinya akan menyenangkan saat dibawakan secara live diatas panggung. Liriknya bicara seputar kehidupan, tentang orangtua dan anaknya. “Run with scissors” dalam lagu ini punya dua makna, yaitu dalam artian sesungguhnya dan merupakan sebuah metafora yang artinya, melakukan hal-hal yang bodoh dan berbahaya.

 

Review One More Light ini tentu sangatlah bias, karena saya pribadi adalah fans dari Linkin Park. Band ini tidak pernah “mencari jati diri” karena sejak awal, mereka tidak ada di dalam sebuah box (sebuah genre). Bagaimana awalnya mereka adalah band yang menggabungkan rock dengan hip-hop, selama 17 tahun terakhir bereksperimen dengan berbagai genre dan sekarang mencoba untuk lebih ‘lembut’. Dan siapa yang tau, apa yang akan terjadi berikutnya…

P.S :

Banyak yang bilang kalau album barunya menandakan bahwa band ini sudah menjual idealismenya demi keinginan pasar. Bahwa mereka kehilangan identitasnya demi uang. Tapi mereka yang berkata demikian mungkin lupa, bahwa band ini adalah para pekarya yang punya jutaan fans di seluruh dunia. Jika mereka memang melakukan semuanya demi uang, mungkin selama 17 tahun terakhir, mereka akan membuat 7 album rock tanpa mencoba bereksperimen dengan genre lainnya.

Album ini mungkin memang bukan album terbaik mereka, tapi bukan berarti mereka menghasilkan karya ‘sampah’. Lagu-lagu dengan lirik yang terasa sangat dekat dan indah menjadi komponen utama dalam album ini, bukan suara keras dan teriakan penuh kemarahan seperti biasanya.

Related Incoming Search Term:

  • Ninin Ariendy

    musik cuma ada 1 pilihan, berinovasi atau mati

  • Desi Rosalinda

    tapi setelah chester nya ga ada.. dengerin album terakhirnya jadi sedih. dan mungkin albumnya jadi byk diminati.

    • Ditambah lagu-lagu di album terakhirnya seakan menyiratkan perpisahan…

  • Peter Adi Saputro

    Reviewnya menarik sekali. Pembahasannya sampai mendalam dari setiap lagu.

    • Walau review ini sangat bias, saya senang ada yang mengapresiasinya. Terimakasih

Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Apple Pie Smoothie Bowl
Aneka Kue Tradisional Indonesia yang Bisa Dibuat Tanpa Oven
4 Minuman Teh Unik dari Seluruh Dunia
Kenapa Sulit Menolak Minuman Bersoda?
SAO II Sinon
SAO Wallpaper Kini Tersedia di CNET
Info Lomba Terbaru 1.0
Info Lomba Terbaru 1.0 Apk
Kesan Bermain Tyranny
Review HP Gaming Headset H300
Beyond Skyrim, Satu Lagi Bukti Skyrim Belum Mati
Mobile Legends vs Vainglory vs Arena of Valor
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron