Linux Tidak untuk Semua Orang

Jadi, kamu adalah seorang anak muda yang baru saja ‘menemukan’ sistem operasi yang menggunakan Linux kernel (supaya simple, selanjutnya disebut “Linux” saja) dan mengetahui fakta-fakta bahwa sebenarnya kamu memiliki pilihan untuk menggunakan sistem operasi yang 100% gratis tanpa harus membayar atau membajak Windows sistem operasi yang umum di pasaran.

Semakin kamu menjelajahi Linux, kamu akhirnya juga mengetahui bahwa ada ratusan ‘cita rasa’ dari Linux itu sendiri. Mulai dari yang sangat ramah terhadap pengguna baru seperti Ubuntu, yang perlu banyak belajar seperti Arch, hingga yang digunakan oleh orang-orang tertentu saja seperti Kali dan OpenSUSE. Belum lagi pilihan desktop yang beragam, mulai dari GNOME, Unity, hingga KDE. Pokoknya, menurutmu Linux itu keren banget.

Pada akhirnya, kamu memutuskan sesuatu:

Aku akan membawa Linux kepada lebih banyak orang. Aku akan menginstallkan Linux di komputer yang digunakan oleh adikku, ayahku, ibuku dan teman-temanku. Mereka harus tau tentang Linux!

Seizin dari anggota keluargamu, kamu menginstall Linux di komputer mereka. Kamu memberikan distro yang terlihat cantik dan mudah untuk ibu dan adikmu serta memberikan distro yang terlihat sangat profesional untuk ayahmu. Karena mereka kurang mengerti tentang komputer, maka mereka mengizinkan saja karena mendengarkan ceritamu tentang ‘kebebasan’ dan ‘kemudahan’ yang ditawarkan oleh Linux.

Saat nongkrong bersama teman-temanmu, kamu menceritakan tentang ‘keren’-nya Linux, bagaimana kamu tidak perlu khawatir tentang virus lagi, bagaimana kamu merasa terbebas dari jeratan korporat. Beberapa temanmu hanya mengiyakan, sementara beberapa lainnya merasa tertarik dan ingin menginstall Linux di komputer mereka masing-masing.

Pada akhirnya, kamu berhasil mengajak keluarga dan beberapa temanmu untuk beralih ke Linux, menggunakan sistem operasi yang perkembangannya berbasis pada komunitas dan bersifat open-source. Pencapaian yang hebat! Begitu pikirmu, hingga…

Suatu siang, adikmu sedang mengerjakan tugas sekolahnya menggunakan LibreOffice Writer, dia mengikuti sebuah tutorial dari internet yang menggunakan Microsoft Word namun pada akhirnya tidak menemukan menu yang diperlukannya.

Dia pun pergi ke kamarmu untuk meminta bantuan. Karena kamu juga baru beberapa waktu menggunakan LibreOffice, kamu pun butuh waktu cukup lama untuk mencari menu tersebut. Namun, hasil akhirnya tetap saja tidak mirip dengan apa yang ada di tutorial dan apa yang harus dikerjakan oleh adikmu.

Sambil terus berusaha membantu adikmu mengerjakan tugasnya, ibumu juga datang ke kamarmu. Dia sedang mencetak desain buatannya melalui printer yang biasa digunakan, namun hasil yang muncul hanyalah kode-kode tidak jelas dan bukan desain yang ingin dicetaknya. Kamu tahu bahwa masalah yang dialami ibumu adalah karena driver yang bermasalah dan seharusnya mudah diatasi. Kamu terus mencari cara membantu adikmu dengan tugasnya dan sambil mencarikan driver yang tepat untuk printer yang digunakan ibumu.

Setelah sekitar satu jam menjelajahi banyak tutorial dan link download, akhirnya kamu berhasil membantu adikmu dengan tugasnya dan memberikan driver yang tepat pada komputer ibumu sehingga dia bisa mencetak sesuai keinginannya.

Saat sedang beristirahat menonton TV, ayahmu memanggilmu ke ruang kerjanya karena alternative software yang kamu installkan di komputer kerja miliknya terasa sangat berbeda dengan apa yang selama ini dia gunakan. Banyak tata letak, fungsi dan keyboard shortcut yang sangat berbeda dengan apa yang biasa digunakan oleh ayahmu. Daripada menganggu pekerjaan ayahmu, pada akhirnya kamu kembali menginstallkan sistem operasi Windows pada komputer kerja ayahmu.

Malam harinya, saat sedang asyik mencoba-coba fungsi dan fitur di Linux yang kamu gunakan. Teman yang juga mencoba menginstall Linux di komputernya menelponmu dan mengatakan bahwa dia tidak bisa memainkan game kesukaannya. Padahal malam itu dia ada rencana bermain bersama teman-teman satu timnya. Kamu mencoba memberikan alternatif dengan menggunakan WINE agar bisa menjalankan game Windows di Linux, sayangnya, performa game tersebut menjadi lebih buruk dan merusak pengalaman bermainnya.

Pada akhirnya, hanya kamulah yang bertahan menggunakan Linux diantara anggota keluarga dan teman-temanmu. Kamu menyadari bahwa Linux sebenarnya tidak untuk semua orang. Mereka yang sudah terbiasa dan nyaman menggunakan produk-produk Windows maupun macOS memiliki haknya untuk menggunakan apa yang dirasa cocok dengan kepribadian dan kebutuhan mereka.

Sekian.