Hungry Dragon, ‘Cuma’ Reskin dari Hungry Shark

Hungry Shark adalah salah satu game bergenre arcade yang paling ‘keren’ untuk perangkat mobile. Sejak perilisan Hungry Shark World, game ini berada dibawah publisher baru, nama besar Ubisoft. Jadi, tidak heran jika hanya dalam 6 hari, iterasi terbaru dari Hungry Shark tersebut sudah menembus 10 juta download di perangkat mobile.

Kini, seri Hungry Shark terbagi menjadi dua game berbeda yaitu Evolution dan World. Hungry Shark Evolution berfokus pada hiu itu sendiri, selain pilihan hiu yang semakin besar dan kuat, Evolution juga menghadirkan pilihan untuk memberikan kemampuan khusus pada hiu-hiu tersebut. Sementara, Hungry Shark World berfokus pada area dimana hiu bisa memangsa, selain ukuran dan kekuatan hiu yang bertambah, area yang bisa dijelajahi pun ikut bertambah.

Oke, sepertinya itu sudah menggambarkan tentang Hungry Shark dan mengapa game ini masih ‘hidup’ sampai hari ini. Nah, Hungry Dragon merupakan ‘spinoff’ tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai reskin dari Hungry Shark, bahkan beberapa asset seperti beberapa ikan masih menggunakan asset dari Hungry Shark.

Hampir Setahun di Soft-Launch

Jika Steam memiliki istilah “Early Access”, maka perangkat mobile punya istilah “Global Soft-Launch” dimana game hanya tersedia di beberapa negara saja. Hungry Dragon sendiri sebenarnya sudah tersedia di Google Play Store sejak akhir 2017 untuk negara seperti Singapura, Filipina, Selandia Baru dan Australia. Sementara, di Apple App Store baru tersedia pada Februari 2018 di negara-negara yang sama.

Menjelang setahun berada di periode soft-launch tersebut, Hungry Dragon akhirnya mengadakan periode Pre-Registration untuk global launch mereka. Game ini akhirnya dirilis secara global pada 30 Agustus 2018. Bagaimana hasil setelah hampir setahun di periode soft-launch? Masih banyak PR.

Seperti saya tulis diawal, game ini masih terasa seperti sebuah ‘reskin’ dari Hungry Shark World dengan pergantian beberapa asset kunci. Di sisi lain, beberapa pengguna mengeluhkan performa yang terasa lebih buruk untuk smartphone yang menggunakan GPU Mali. Artinya, game ini masih perlu dioptimasi lagi.

Event Kolaboratif

Game dengan genre arcade seperti Hungry Shark dan Hungry Dragon sebenarnya agak sulit untuk memperoleh keuntungan. Hal ini terutama karena game semacam ini hanya dimainkan ketika pemainnya sedang ingin bermain dan cenderung sulit untuk ‘memaksa’ pemain untuk terus kembali.

Hungry Shark sebenarnya sudah berhasil meramu formula yang tepat agar para pemainnya mau terus kembali untuk bermain lagi, lagi dan lagi. Event merupakan salah satu dari cara tersebut, event dibuat dalam waktu terbatas sehingga ‘memaksa’ pemain untuk bermain di waktu yang belum tentu mereka sebenarnya ingin bermain.

Hungry Dragon membawa event ini ke level yang lebih jauh dengan menghadirkan event kolaboratif. Artinya, para pemain Hungry Dragon di seluruh dunia akan ‘bekerjasama’ secara tidak langsung untuk menyelesaikan event tersebut demi hadiah yang akan dinikmati bersama.