Selidik-Selidik Mesin Sensor Kominfo

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) kabarnya memiliki mesin sensor baru. Kehadirannya sudah diumumkan sejak akhir tahun 2017 dan mulai beroperasi pada awal 2018. Awal tahun 2018 ini juga sepertinya menjadi sebuah tonggak sejarah baru bagi per-internet-an Indonesia karena selain mesin sensor Kominfo yang mulai beraksi, Indonesia memiliki kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) baru dan registrasi kartu SIM akan berakhir pada bulan Februari 2018.

Kembali ke mesin sensor Kominfo, sebenarnya apa sih mesin ini? Apa fungsinya? Ada bedanya dengan “Internet Positif” yang sudah ada saat ini?

Mesin ini beroperasi di lantai 8 kantor Kominfo yang di dalamnya mirip dengan command center milik NASA katanya. Dengan harganya yang mencapai 200 miliar Rupiah, mesin ini dilengkapi dengan teknologi machine learning katanya. Jadi, secara teori, mesin ini akan jadi semakin ‘pintar’ seiring waktu dalam memfilter konten, tapi untuk tahap awal, dia perlu bantuan manusia.

Mesin sensor ini bekerja dengan teknik yang secara sederhana bisa disebut sebagai crawling dan blacklisting. Crawling adalah proses dimana mesin ini ‘menjelajahi’ internet dan situs-situs di dalamnya, sama seperti bagaimana mesin Google bekerja untuk menemukan situs di internet. Sementara blacklisting adalah proses dimana mesin ini memasukan situs-situs yang memenuhi kategori tertentu ke daftar hitam sehingga tidak bisa diakses.

Dalam satu kali crawling, katanya mesin ini berhasil menjelajahi 1,2 juta URL dan 120.000 domain situs mengandung pornografi. Namun, bagi saya pribadi sebagai seorang blogger, hal ini agak mengkhawatirkan. Bukan karena saya memproduksi konten negatif, tapi karena jika kategori “konten negatif” hanya berdasarkan kata yang ditemukan dalam sebuah situs, tetap ada kemungkinan situs saya ikut masuk dalam blacklist hanya karena berisi kata “sex” atau “seks” padahal dalam konteks konten positif, berita atau pembelajaran.

Kekhawatiran saya bukan tanpa dasar, pada Agustus 2010 lalu, situs seperti Kaskus, Detik hingga Kompas sempat masuk dalam daftar hitam dari Internet Positif. Setahun kemudian, MalesBanget.com juga sempat masuk dalam daftar hitam hanya karena mengandung kata “male” dan “bang”.

 

Apa fungsi dari mesin sensor ini?

Fungsi utamanya adalah melawan konten pornografi dan konten negatif lainnya seperti hoax, ujaran kebencian, terorisme, perjudian dan sebagainya. Jika selama ini sensor di internet Indonesia biasanya hanya terbatas pada website dan umumnya lebih banyak berdasarkan laporan masyarakat, dengan mesin sensor baru ini, kabarnya juga bisa melacak konten negatif yang ada di sosial media dan bukan sekedar berdasarkan laporan masyarakat, tapi juga secara otomatis.

Walau Kominfo menampik mesin sensor ini bisa digunakan untuk profilling, yaitu memetakan kebiasaan seseorang dan memata-matai. Tapi jika mesin itu memang setangguh yang diklaim, yaitu mendeteksi 1,2 juta URL dalam sekali crawling dan punya machine learning yang semakin pintar seiring waktu, kemungkinan penggunaannya untuk hal-hal tersebut bisa saja terjadi.

Lalu, apa bedanya dengan Internet Positif?

Internet Positif sebenarnya adalah nama aktivitas pemblokiran yang digunakan oleh ISP plat merah saja seperti Telkom dan Telkomsel. Sementara nama program resmi dari Kominfonya adalah “Trust Positif”. Sayangnya, program ini hanya berfungsi sebagai referensi yang menyediakan database URL dan domain mana saja yang harus diblokir oleh ISP. Dan untuk ‘mengelabuhi’-nya, menggunakan VPN saja sudah cukup.

Dengan adanya mesin sensor ini, mungkin diharapkan proses ini bisa berlangsung lebih cepat dan lebih masif. Apalagi melihat database dari Trust Positif tidak bertambah satu pun sejak Agustus 2017. Jadi, selama kurang lebih 6 bulan terakhir, situs-situs baru bermuatan negatif tidak ditambahkan sama sekali ke dalam database Kominfo.

Pendapat Pribadi

Mesin sensor Kominfo menurut saya pribadi adalah berita baik bagi internet Indonesia yang lebih baik. Jika mesin ini memang setangguh yang diklaim, maka angka konten negatif seperti pornografi, ujaran kebencian, hoax dan penipuan di internet akan menurun dan menciptakan iklim internet yang lebih sehat dan aman. Program yang awalnya hanya fokus membasmi pornografi di internet juga bisa mulai membasmi konten negatif lainnya yang jumlahnya semakin banyak seperti radikalisme dan hoax.

Sebagai seorang mahasiswa jurusan komputer, saya lebih senang jika mesin ini menerapkan metode whitelisting dibanding blacklisting. Blacklisting adalah metode dimana semua situs awalnya tidak disensor kemudian disensor satu per satu menurut kriteria tertentu. Sementara whitelisting adalah metode dimana semua situs awalnya diblokir, kemudian situs-situs yang dianggap memenuhi kriteria, dikeluarkan dari blokir. Dengan cara ini, situs baru bermuatan negatif akan langsung terblokir terlebih dahulu sebelum mendapat persetujuan. Tapi, itu hanya pendapat karena pada dasarnya kedua metode ini sama saja ketika diterapkan.

Walau mesin sensor ini kabarnya ‘hanya’ melakukan crawling, tapi klaim bahwa mesin sensor baru ini juga bisa mendeteksi konten negatif di sosial media sebenarnya mengindikasikan kemampuannya untuk melakukan profilling. Profilling dan mass surveillance bukan hanya dua masalah yang mungkin terjadi, karena ada kemungkinan lain yaitu dicurinya data-data tersebut, apalagi saat artikel ini ditulis, Indonesia belum memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Persoalan ini memang terasa rumit dan teknis, tapi kita sebagai pengguna internet dan warga negara harus peduli pada hal-hal ini.

Tapi, jika mesin sensor Kominfo ini, maaf, hanya omong kosong, dimana kemampuannya tidak setangguh klaim yang dibuat. Maka, lembaga lain seperti KPK sepertinya harus ikut campur dalam proyek ini. Karena 200 miliar untuk sebuah mesin yang tidak setangguh yang diklaim adalah sebuah indikasi bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.