Selidik-Selidik Callind (Indonesia Memanggil)

Pasar aplikasi chatting atau instant messenger sebenarnya sudah cukup padat, ada nama-nama besar seperti WhatsApp, LINE dan Telegram, serta nama-nama kurang populer namun dengan pengguna yang tidak kalah banyak seperti WeChat, BBM dan Signal. Tapi, hal itu sepertinya tidak menghalangi keinginan Callind (Indonesia Memanggil) untuk ikut terjun ke pasar ini.

Sejak awal, Callind memasarkan diri sebagai “Aplikasi Karya Anak Bangsa” dengan Novi Wahyuningsih asal Kebumen sebagai CEO-nya. Beberapa portal berita bahkan menuliskan judul bahwa Callind akan menjadi saingan dari WhatsApp, salah satu aplikasi chatting paling populer di dunia saat ini.

Tapi, apakah benar demikian? *nada dramatis

Disclaimer : Saya menggunakan Callind version 0.0.1 yang diupdate pada 17 April 2018 untuk menuliskan artikel ini.

Callind Punya Desain yang Kuno

Di era dimana sebagian besar aplikasi beralih menggunakan material design, entah kenapa Callind tidak menggunakan bahasa desain tersebut. Saya yakin aplikasi ini masih terus dikembangkan, namun jika melihat para pesaing-pesaingnya seperti WhatsApp dan Telegram, desain dasar dari Callind masih kalah jauh.

Saat melihat screenshot aplikasinya di PlayStore, Callind mengingatkan saya dengan BBM saat saya terakhir kali menggunakan aplikasi tersebut. Mulai dari pemilihan color scheme, icon dan penempatan tab sangat mengingatkan saya dengan BBM for Android.

Namun, setelah di download, ternyata desainnya sudah cukup banyak berubah terutama pada color scheme. Tapi, kenapa screenshot PlayStorenya tidak diubah???

Banyak Fitur dalam Satu Aplikasi

Saya pribadi merupakan orang yang mendukung hal-hal semacam ini, karena kenapa harus menggunakan banyak aplikasi berbeda bila satu aplikasi saja bisa memenuhi semua keinginan. Callind punya banyak fitur standar dari sebuah aplikasi chat seperti chat *tentu saja, private chat, video call, voice call hingga “Curhat Chat” yang saya rasa mirip seperti Tinder yang bisa mempertemukan kita dengan seseorang untuk diajak chatting.

Selain fitur chat, Callind juga menawarkan fitur beriklan dalam aplikasi yang mirip seperti OLX (iklan baris bergambar) dan berita. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan menambahkan fitur semacam ini, lihat saja LINE yang menambahkan fitur berita ke dalam aplikasi utamanya.

Sayangnya, fitur tambahan yang ada di Callind ini masih sangat lemah. Sistem sorting atau kategori pada bagian iklan sepertinya tidak bekerja, fitur berita entah kenapa tidak berfungsi saat saya menggunakannya dan fitur info lalu lintas hanya menunjukan lalu lintas di Jawa Barat saja, ditambah desainnya kuno dan sepertinya hanya merupakan web view.

Segera Beralih ke React Native

Poin ini sebenarnya agak teknis. Jadi awalnya, Callind menggunakan Ionic sebagai framework aplikasinya. Gampangnya, menggunakan Ionic membuat Callind terasa lebih berat, terutama untuk smartphone berspesifikasi rendah namun memudahkan developer dalam mengembangkannya di dua platform sekaligus.

Kabarnya sih, Callind akan beralih ke React Native untuk mendapatkan performa yang lebih baik lagi ke depannya. Saya harap sih Callind bukan sekedar beralih ke React Native sebagai framework, namun juga memperbaiki banyak celah keamanan yang ada di aplikasinya saat ini. Contohnya, saya bisa mengakses semua foto profil pengguna Callind melalui https://api.callind.id/assets/avatar/ , sebuah folder yang seharusnya tersembunyi dari publik. Yah, kita lihat saja ke depannya.

Hal-Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Mendownload dan Menggunakan Callind

Setelah melihat-lihat Callind, ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi pertimbangan sebelum mendownload Callind:

  1. Keamanan Data Pengguna. Aplikasi chatting saat ini sebagian besar sudah menggunakan end-to-end encryption yang membuat hampir setiap pesan tidak bisa dibaca oleh hacker, lalu bagaimana dengan Callind? Apakah sudah menggunakan protokol keamanan yang terbaru? Apalagi Callind juga memiliki fitur transaksi dan meminta banyak access pada versi Androidnya.
  2. Callind meminta akses kontak pada Android namun belum memiliki fitur yang mampu mensinkronisasi kontak secara otomatis ke dalam aplikasi.
  3. Cara Callind Memasarkan Diri. Callind memang bisa disebut sebagai startup, namun saya pribadi kurang suka dengan cara mereka memasarkan diri dan melakukan branding. Dalam video promosinya yang berbahasa Indonesia, Callind seakan mencitrakan aplikasi chat buatan luar sebagai sesuatu yang buruk dan tidak menguntungkan Indonesia. Sistem referal untuk mendapatkan pengguna baru juga cenderung sangat lemah dan kurang populer belakangan ini.

Jangan Berlindung Dibalik “Karya Anak Bangsa”

Saya pribadi merupakan orang yang tidak suka ketika sebuah karya baik itu film, animasi, musik atau aplikasi yang berlindung dibalik kata-kata “karya anak bangsa”. Jika memang masih ada kekurangan, maka jangan anti terhadap kritik dan saran.

Jika Callind ingin benar-benar bersaing dengan aplikasi chatting lain, maka sudah waktunya keluar dari perlindungan “karya anak bangsa” dan membuat karya (aplikasi) yang benar-benar bisa membanggakan bangsa. Perjalanan memang masih panjang dan jauh untuk benar-benar bisa bersaing, tapi bukan berarti tidak mungkin.