Stories

Purnama Kecilku

Disclaimer : Kisah ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan latar belakang, nama, tempat atau kejadian, itu hanya kebetulan semata.

Mereka yang datang ke pantai hanya untuk menikmati sang fajar adalah mereka yang rela berkorban demi mendapatkan sesuatu yang belum dimengerti orang lain. Sementara diriku, aku adalah penikmat senja. Menikmati setiap detik sang mentari semakin turun dari singgasana hari dan akhirnya kembali ke peraduannya dan menyelimuti bumi dengan selimut malam bersama bintang dan bulan.

Tapi, itu hanyalah hari-hari masa lalu. Hari dimana aku belum mengenal arti keluarga dalam pandangan realistis. Aku selalu memandang keluarga sebagai sebuah tempat, sebuah tempat dimana aku bisa kembali apapun yang terjadi. Keluarga bukanlah mereka yang hanya terikat oleh darah, tapi mereka yang selalu menunggumu untuk pulang. Setidaknya itulah definisi keluarga menurutku saat masih begitu naif, tapi sekarang, aku sadar bahwa keluarga bukanlah tempat untuk pulang, tapi sebuah tempat yang justru harus ku jaga dan rawat apapun yang terjadi.

Banyak orang berkata bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan, tapi mungkin mereka lupa bahwa setiap senyuman harus berasal dari sesuatu, bisa berupa perut yang kenyang, rasa aman dan nyaman saat berada di rumah, atau hadirnya orang-orang yang mencintai dan kita cintai. Semuanya harus berasal dari sesuatu, bukan hadir begitu saja.

Awalnya semua baik-baik saja, atap untuk bernaung yang cukup nyaman dan aman, uang yang cukup untuk mengeyangkan perut setiap hari bahkan masih ada sisa untuk hal-hal penting lain seperti pendidikan dan investasi. Semuanya baik-baik saja, dan ini adalah masa depan yang aku inginkan. Sebuah keluarga, rumah dan senyuman. Tapi, Tuhan sepertinya masih punya rencana lain.

Berasal dari suatu pagi yang sebenarnya cukup cerah, aku pergi bersama sang mentari dan akan pulang bersama sang purnama. Entah ada anugrah atau sambaran petir apa, aku harus pulang mendahului purnama. Aku pulang dengan senyuman dan khayalan sambutan hangat saat sampai di rumah. Sayangnya, yang ku dapati justru bukan sambutan hangat, tapi sosok tidak dikenal yang langsung berlari keluar lewat jendela saat aku membuka pintu. Dia meninggalkan banyak hal, pakaian, dompet dan hal-hal lainnya berserakan di lantai.

Aku sebisa mungkin mendingin, berusaha tidak terbakar oleh amarah dan pikiran-pikiran setan yang akan merusak segala optimismeku. Sayangnya, usahaku tidaklah cukup, saat aku melihat purnama milikku tanpa jubah, aku tahu ada sesuatu telah terjadi, bahkan mungkin ini bukan yang pertama.

Teriakanku tidak akan berguna, amarahku hanya akan memperparah masalah, maafku tidak akan menyelesaikan apapun, bahkan tindakan kasarku mungkin akan menyakiti dia yang aku cinta. Aku tidak tau harus apa, yang ku pikirkan hanyalah satu, dia yang merupakan purnama kecilku. Apa yang akan terjadi padanya setelah semua ini?

Aku pergi dari tempat yang ku sebut rumah dan keluarga, berusaha untuk tetap sewaras mungkin, pergi tanpa arah dan tujuan. Berusaha untuk menenangkan diri tanpa memberitahu siapapun dulu. Apa yang akan dikatakan ibu kami saat mendengar semua ini, apakah aku yang harus bercerita lebih dulu? Tapi aku tidak tega melihat ibuku maupun ibunya menangis. Apa aku harus diam saja dan memaafkan? Aku tidak sedungu itu! Keluargaku sedang benar-benar koyak dan aku tidak punya tempat untuk kembali saat ini.

Sempat terpikir untuk mendapatkan keluarga baru, keluarga sementara bahkan kembali pada orang yang pernah mencintaiku. Tapi, purnama kecilku selalu melintasi pikiranku saat aku memikirkan semua itu. Keputusanku tidak hanya akan mempengaruhiku, tapi mungkin orang-orang yang tidak sempat aku pikirkan.

Pikiranku akhirnya membawaku melayang ke masa lalu, masa dimana aku belum menemukan purnamaku. Aku adalah penikmat senja yang tidak pernah optimis, aku selalu realistis pada keadaan. Tapi, pertemuanku dengannya menjadikanku seseorang yang optimis, optimis dengan sebuah masa depan indah yang bahagia. Sayangnya, hari ini, dialah yang mengkhianati masa depan itu.

Kini, keputusanku bulat. Aku akan kembali ke rumah, kembali pada tempat yang sempat aku sebut keluarga. Bukan untuk datang, memaafkan dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Tapi, untuk merenggut purnama kecilku, seseorang yang masih menjadikan seseorang yang optimis, bukan sekedar realistis. Aku akan datang, menjemputnya dan akan tetap memiliki seseorang yang membuatku akan selalu kembali pulang setiap hari, apapun yang terjadi. Seseorang yang akan selalu ku jaga dan ku rawat, walau apapun keadaanya. Dia adalah optimisme, masa depanku, purnama kecilku.

Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Apple Pie Smoothie Bowl
Aneka Kue Tradisional Indonesia yang Bisa Dibuat Tanpa Oven
Inilah Komponen pada Kulkas dan Fungsi Tiap Bagiannya
4 Minuman Teh Unik dari Seluruh Dunia
Kenapa Sulit Menolak Minuman Bersoda?
SAO II Sinon
SAO Wallpaper Kini Tersedia di CNET
Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play
Review LIT High Performance In-ear Earphone dari SOUL
Kesan Bermain Tyranny
Review HP Gaming Headset H300
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron