Blogger

Plugin Gutenberg dari Mata Seorang Penulis

Saya sudah menulis menggunakan WordPress sejak 2014, pengalaman yang diberikan oleh text editor-nya rasanya jauh lebih baik dari apa yang ditawarkan Blogger. Tapi, jika membandingkannya dengan pengalaman menulis di Medium misalnya, WordPress masih kalah jauh.

Sejak Juni 2017, WordPress mengatakan bahwa mereka akan melakukan update pada text editor engine mereka dan diberinama “Gutenberg”, diambil dari nama penemu mesin cetak (printing) sekitar 5 abad yang lalu. Saat tulisan ini dibuat, Gutenberg masih berbentuk plugin dan masih berstatus beta. Pihak WordPress mengatakan akan memasukan Gutenberg ke dalam core WordPress pada versi 5.0 (sekitar akhir 2017).

Gutenberg

Matt Mullenweg, CEO WordPress mengungkapkan kalau dia berharap Gutenberg setidaknya harus mendapat 100,000 instalasi sebelum dibawa ke core WordPress dan dirilis ke publik. Sayangnya, saat artikel ini saya, tulis angka tersebut masih sangat-sangat jauh. Gutenberg hanya mendapat 3000 active install dengan rating dibawah 3.

Lalu, apa yang sebenarnya menjadi masalah Gutenberg?

Sebagai seorang penulis, saya menghargai usaha WordPress untuk menghadirkan text editor yang lebih ‘canggih’ dan ‘bersih’ untuk pengguna baru maupun pengguna setianya. Sayangnya, jika dibandingkan dengan text editor yang ditawarkan oleh paltform lain seperti Medium dan Ghost, kedua jauh lebih menyenangkan untuk menulis dibanding Gutenberg.

Masalah dengan Gutenberg, menurut saya adalah usahanya untuk memenuhi dua keinginan sekaligus. Gutenberg tidak bisa dipungkiri adalah usaha WordPress untuk bersaing dengan web builder seperti Wix, WordPress yang sudah berusia 15 tahun tentu tidak mau kalah dengan pendatang baru dalam urusan web builder, walau sebenarnya ada banyak sekali plugin dan theme yang menawarkan fitur web builder tapi WordPress berusaha membawa fitur ini ke core engine mereka.

Keinginan kedua WordPress adalah menghadirkan text editor secaggih dan sebersih platform baru seperti Medium. Tapi, yang sepertinya dilupakan oleh WordPress adalah kenyataan bahwa Medium sendiri butuh waktu sekitar 6 tahun untuk menyempurnakan formula mereka, sementara Gutenberg baru berada 6 bulan pada masa pengembangan.

Memang WordPress diuntungkan karena bersifat open-source dimana siapapun bisa ikut serta mengembangkannya. Tapi, Gutenberg seperti tidak tau arah mana yang sebenarnya ingin dituju. Sekedar menghadirkan text editor yang canggih dan bersih atau menghadirkan web builder yang canggih untuk masa-masa mendatang.

Sebagai seorang penulis, tentu saya ingin text editor yang nyaman dan menyenangkan untuk menulis. Sebuah text editor yang tidak memiliki terlalu banyak elemen di sekitarnya yang mungkin mengganggu konsentrasi saat menulis. Sayangnya, Gutenberg belum bisa memenuhi hal itu untuk saat ini, masih banyak hal yang harus diperbaiki dan disesuaikan.

Contoh sederhananya saja, pada text editor lama, mengubah sebuah kalimat atau kata menjadi heading hanya memerlukan sekali klik, sementara pada Gutenberg memerlukan dua kali klik. Sepele memang, tapi terkadang bisa terasa sangat menganggu.

*Post ini sepenuhnya ditulis menggunakan plugin Gutenberg

Resep Membuat Kue Putri Salju
Cara Mengobati Flu dengan Cepat
Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Hati-Hati! 4 Penyakit Ini Ternyata Berbahaya Bagi Pengemudi Mobil
Selain Ilija Spasojevic, Ini 4 Pemain Sepakbola yang Tinggal Menuggu Jadi WNI
5 Momen Pertama yang Jangan Sampai Dilewatkan Sebagai Orangtua
Inilah Komponen pada Kulkas dan Fungsi Tiap Bagiannya
Kesan Bermain Path of Exile dan Grim Dawn
Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play
Review LIT High Performance In-ear Earphone dari SOUL
Kesan Bermain Tyranny
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron