Perang Kopi Panas vs Kopi Dingin

Saya adalah tipikal orang yang kalau disuguhi kopi atau teh, maka saya akan lebih sering memilih teh. Tapi, di sisi lain, pada kondisi tertentu, saya bisa saja memilih untuk minum kopi dibanding teh, misalnya kalau sedang mengantuk atau sedang bosan saja minum teh.

Di dunia per-kopi-an sendiri, ada ‘perang’ antara mana yang lebih baik antara kopi panas atau kopi dingin? Saya pribadi berada pada pihak kopi dingin, karena menurut saya yang saat ini( yang masih berusia 20 tahunan), kopi panas itu menyusahkan dan tidak efektif untuk diminum karena harus ditunggu agak dingin dahulu.

Tapi, sebelum benar-benar memutuskan mana yang lebih baik antara kopi panas dan kopi dingin, kita harus benar-benar memiliki satu definisi yang sama tentang apa yang dimaksud “lebih baik” disini, apakah dari segi rasa? dari segi manfaat? atau faktor yang lainnya.

Manfaat Kopi Panas dan Manfaat Kopi Dingin

Karena keduanya sama-sama kopi, jadi bisa dibilang kalau keduanya punya manfaat yang sama. Kopi dari dulu dikenal sebagai minuman yang mengandung kafein, karenanya pasti punya manfaat untuk meningkatkan level energi dalam tubuh yang dengan kata lain bisa menghilangkan kantuk, meningkatkan kecerdasan hingga memberi manfaat bagi otak (kecerdasan) dan membantu mengurangi risiko Alzheimer dan demensia.

Kopi panas adalah cara paling ‘biasa’ dalam menyajikan kopi. Tapi, kopi dingin hadir bukan semata-mata untuk melawan rezim kopi panas, tapi kopi dingin adalah alternatif bagi mereka yang menderita sakit maag namun tidak bisa menerima kenyataan bahwa kopi bisa meningkatkan asam lambung. Kopi dingin adalah jalan bagi mereka untuk tetap menikmati kopi tapi tetap menjaga diri.

Risiko Kopi Panas dan Risiko Kopi Dingin

Kandungan kafein pada kopi memang bermanfaat, tapi jika sudah berlebihan, justru bisa berbahaya. Bahkan jika seseorang mengkonsumsi antara 80-100 gelas kopi sehari, hal itu bisa mengancam nyawanya. Kopi juga tidak disarankan untuk dikonsumsi bagi mereka yang menderita sakit jantung dan ibu hamil karena sangat berisiko. Risiko ini berlaku baik bagi kopi panas ataupun kopi dingin.

Menikmati kopi dalam keadaan yang terlalu panas dipercaya bisa menyebabkan panas dalam, sariawan dan sakit tenggorokan. Tapi, kopi dingin juga tidak bebas dari risiko. Para penikmat kopi dingin cenderung menikmati kopi dalam keadaan yang lebih manis (lebih banyak gula), dan hal ini meningkatkan risiko terkena obesitas hingga kanker yang berhubungan dengan obesitas.

Rasa Kopi Panas dan Kopi Dingin

Masalah rasa, baik kopi panas maupun kopi dingin sama-sama enak, tapi semua kembali ke selera penikmatnya masing-masing. Seorang barista bisa saja belajar cara membuat kopi yang enak hingga ke luar negeri, tapi saat kopi yang disajikan ke dua orang penikmat kopi yang berbeda, satu orang akan berkata bahwa kopi itu enak dan yang satunya akan mengatakan bahwa kopi itu kurang enak.

Jadi, masalah rasa, semunya kembali ke pribadi masing-masing pecinta kopi. Apakah suka secangkir kopi dengan tambahan sedikit asap di bagian atasnya atau segelas kopi dengan tambahan es batu dan sedotan?

Kesimpulannya, mana yang lebih baik, kopi panas atau kopi dingin? RELATIF!