Pengalaman Seminggu Menggunakan ElementaryOS

Pindah sepenuhnya ke Linux ternyata tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Awalnya saya memilih untuk menggunakan Ubuntu 18.04 LTS, namun setelah dipikir-pikir, Ubuntu memiliki versi yang updatenya agak sulit untuk saya ikuti. Maka, pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan ElementaryOS yang pada dasarnya berbasis Ubuntu LTS namun memiliki penamaan versi yang lebih sederhana dan mudah saya ikuti.

Sekilas tentang ElementaryOS

ElementaryOS pertama kali dirilis pada 2011 lalu, yaitu ElementaryOS 0.1 (Jupiter) yang berbasis Ubuntu 10.10. Project ini awalnya bermula sebagai theme dan aplikasi untuk Ubuntu, namun akhirnya merubah menjadi Linux distro tersendiri dengan mengusung user-interface yang sangat mirip dengan macOS.

ElementaryOS memiliki tampilan yang sekilas sangat mirip dengan macOS bukan karena menjiplak atau ‘terinspirasi’, namun karena model tampilan ini memang terbukti memberikan user-experience yang sangat mudah dimengerti. Developer dari ElementaryOS mengusung tiga konsep pada produk mereka yaitu ringkas, menghindari konfigurasi dan meminimalkan dokumentasi. Sederhananya, pengguna bisa langsung menggunakan dan mengerti tanpa perlu banyak belajar. Namun, hal ini berdampak pada kustomisasi yang sangat minimal.

Pengalaman Menggunakan ElemntaryOS

ElementaryOS = Ubuntu + MacOS

ElementaryOS menggunakan desktop environment bernama Pantheon yang memberikannya tampilan sangat mirip dengan macOS. Keuntungannya? Sistem operasi satu ini terasa sangat sederhana dan ringan namun sangat mudah digunakan tanpa perlu banyak belajar.

Berbasis Ubuntu memberikan keuntungan lainnya yaitu hampir semua repository yang ditujukan untuk Ubuntu bisa berjalan dengan baik di OS ini. Menggunakan Ubuntu LTS version sejak ElementaryOS 0.2 membuat setiap versi terbaru terus mendapat update rutin dan peningkatan keamanan setidaknya selama 2 tahun.

Kekurangan satu-satunya yang dimiliki oleh ElementaryOS adalah kurangnya pilihan untuk melakukan kustomisasi. Tapi, hal itu sepertinya sudah tergantikan dengan tampilannya yang sangat ‘cantik’.

Menjadi pengguna Windows selama bertahun-tahun sama sekali tidak membuat saya kesulitan dalam menggunakan ElementaryOS. Semuanya terasa begitu natural dan mudah.

Masih Banyak Game Bagus di Steam

Salah satu pertimbangan terbesar saya saat ingin sepenuhnya pindah ke Linux adalah game. Untungnya, Steam memungkinkan game yang sudah saya miliki bisa dimainkan di semua platform yang tersedia untuk game tersebut. Jadi, walau hampir seluruh game saya di Steam dibeli saat masih menggunakan Windows, beberapa game yang memang bisa berjalan di Linux tetap bisa saya mainkan tanpa harus membayar lagi.

Hampir semua game-game yang dirilis oleh Valve seperti Team Fortress 2, DOTA 2, Payday 2 dan CSGO bisa berjalan di Linux. Sementara, ada game-game ‘lama’ seperti Borderlands 2, Metro 2033, dan Rocket League yang berjalan lancar tanpa isu. Ada pula beberapa game indie seperti Stardew Valley, Slay the Spire dan Oxygen Not Included.

Nama game-game diatas hanyalah game yang saya miliki di Steam. Setidaknya ada ratusan game lain baik dari developer besar maupun developer indie yang tersedia untuk Steam.

Saya sendiri kurang suka menggunakan PlayOnLinux ataupun Wine, selain karena agak ‘ribet’, umumnya menggunakan Wine maupun PlayOnLinux tidak memberikan performa dan hasil terbaik.

Driver dan Performa Baterai

Masalah pertama yang menjadi perhatian saya saat pindah ke Linux adalah menemukan driver untuk Nvidia GeForce 740M yang digunakan laptop saya. Untungnya, ElementaryOS memiliki AppStore yang secara otomatis mendeteksi GPU yang saya gunakan dan memberikan pilihan driver yang bisa digunakan.

Driver kedua yang harus saya temukan adalah untuk printer yang saya gunakan. Awalnya saya sempat salah menginstall driver yang menyebabkan hasil print hanya memunculkan command line dan code. Untungnya, menemukan solusi dan driver yang tepat sangatlah mudah dengan banyaknya forum dan diskusi mengenai masalah serupa baik untuk Ubuntu maupun ElementaryOS.

Untuk baterai, saya kurang tau apakah ini memang karena ElementaryOS memang belum begitu dioptimasi untuk pemakaian daya yang lebih rendah, atau kesalahan saya dalam melakukan setting atau memang karena usia baterai laptop saya yang tergolong sudah lumayan lama. Tapi, saat menggunakan Steam (bukan game) dan Firefox bersamaan, saya hanya bisa menggunakan mode baterai sekitar 1 jam.

Kesimpulan

ElementaryOS merupakan salah satu distro Linux berbasis Ubuntu paling ‘cantik’ yang tersedia di pasaran. Tampilannya yang mirip macOS terasa begitu natural saat digunakan namun memiliki kustomisasi yang sangat minimal. Karena berbasis Ubuntu, sistem operasi ini memiliki akses ke berbagai fitur dan aplikasi yang tersedia untuk Ubuntu.

Masalah saya pribadi pada OS ini adalah menemukan driver yang tepat untuk beberapa perangkat tambahan yang saya miliki serta performa baterai yang entah kenapa terasa begitu buruk saat menggunakan Steam dan bermain game.