Pembuatan Video Gameplay Perdana yang ‘Gagal’

Harus diakui bahwa saat ini, Indonesia sedang mengalami pertumbuhan pengguna internet yang sangat cepat. Menurut pengamatan saya pribadi, orang Indonesia cenderung menikmati 3 jenis media yang berbeda dengan cara yang berbeda.

Pertama, media berupa tulisan dan gambar cenderung digunakan oleh situs berita untuk mendapatkan kepercayaan dari pembaca, terlepas dari tulisan dan gambar itu adalah fakta atau fiksi, atau bahkan hoax. Harus diakui, tulisan dan gambar memang lebih mudah dipercayai kebanyakan orang.

youtube

 

Kedua, media berupa video. Kecepatan rata-rata internet di Indonesia yang sudah lebih baik (walau masih kalah jauh dari negara lain) telah membuat konten berupa video di internet jadi memiliki lebih banyak penikmat. Walau demikian, tingkat kepercayaan terhadap video lebih rendah dibanding tulisan dan gambar tapi penikmatnya terus meningkat.

Ketiga, media berupa suara. Di luar negeri, konten suara biasanya dimanfaatkan oleh media-media besar atau orang terkenal dalam bentuk podcast. Di Indonesia, media ini cenderung tidak populer.

Nah, karena video berada di peringkat kedua sebagai jenis konten yang banyak dicari oleh pengguna internet di Indonesia menurut saya. Maka, mulai bulan Februari 2016, saya berusaha lebih sering menghadirkan konten berupa video melalui akun Youtube saya (klik disini).

Untuk video pertama, saya mengunggah video gameplay Vainglory dengan hero menggunakan hero bernama Glaive.

Beberapa peralatan yang saya pakai

Dan software yang dipakai

  • EZ Screen Recorder Free
  • Wondershare Filmora
  • Windows Movie Maker

 

prehistoric gglaive

Proses pembuatannya sebagai berikut

  1. Saya merekam aktivitas layar OnePlus One saat saya bermain Vainglory memakain hero bernama Glaive menggunakan EZ Screen Recorder Free.
  2. Setelah pertempuran yang sangat sengit selama 34 menit dan akhirnya menang, saya selesai merekam aktivitas layar dan mencoba menonton hasilnya.
  3. EZ Screen Recorder ternyata merekam suara yang berasal dari luar perangkat, jadi kata-kata saya selama bermain juga ikut terekam.
  4. Saya memotong bagian-bagian yang tidak penting dari video, meninggalkan bagian yang seru-seru saja. Memotong durasi video menjadi setengahnya dengan Filmora dan saya salah memiliki rasio layar yang hasilnya sangat fatal.
  5. Setelah video hanya menyisakan highlight saja, saya memutuskan untuk menghilangkan seluruh suara dari video tersebut dengan Windows Movie Maker.
  6. Untuk menggantikan suara-suara yang hilang, saya memakai royalty-free sound dari situs bensound.com dan menambahkannya ke dalam video.
  7. Next, diunggah ke Youtube.

Seperti halnya saat menulis artikel, dimana harus berhati-hati jika gambar yang kita pakai memiliki copyright, saat membuat video pun harus memperhatikan jika musik/suara yang kita tambahkan bahkan pakai sepenuhnya memiliki copyright atau tidak.

Sekarang saya sedang menguji pengaruh teknik SEO terhadap terpopuleran video di Youtube dan bagaimana cara membuat sebuah video bisa terus tumbuh. Memang secara teori SEO akan mempengaruhi video di Youtube, tapi bagaimana dan apa saja faktor yang bisa mendukungnya? Itulah yang sedang ingin saya coba sambil menambahkan lebih banyak video ke channel Youtube saya.

Oh ya, berikut ini adalah hasilnya