Lima Hari di Sulawesi

Karena belakangan ini banyak kegiatan, maka cerita ini baru bisa saya tuliskan sekarang. Cerita mengenai pengalaman saya selama lima hari berada di pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tengah. Berinteraksi dengan orang Bali yang bertransmigrasi kesana puluhan tahun lalu dan mencicipi sebuah suasana yang terasa sangat mirip dengan rumah.

Hari Pertama

Perjalanan di mulai dari Bandara Ngurah Rai di Tuban menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Maros. Bandara tampak ‘kosong’ saat saya berada di ruang tunggu, terutama beberapa tempat makan. Bukan sesuatu yang aneh memang karena masih suasana libur Lebaran saat itu. Apalagi saya mengambil penerbangan pagi.

Saat berada di Maros selama kurang lebih tiga jam, saya berusaha untuk tidur di ruang tunggu penumpang karena memang malam sebelumnya tidur saya kurang nyenyak. Sialnya, saya tidak berhasil menemukan posisi yang nyaman hingga pada akhirnya justru membuat kepala jadi pusing dan kelelahan saat tiba di Palu.

Di Palu, dijamu dengan ‘Nasi Bali’, nasi putih dengan berbagai lauk yang dimasak dengan ‘base genep’, bumbu lengkap khas Bali yang juga di bawa dan dipertahankan oleh para transmigran yang datang ke Sulawesi Tengah sejak 1970-an.

Dari Palu, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah daerah bernama Tolai. Jujur saja, saya tidak tau, dimana itu Tolai, berapa jarak dari kota Palu kesana dan berapa lama perjalannya. Ternyata, perjalanannya suuaanggaattt jaaauuuhh…. bagi saya pribadi. Jalannya berkelok, antara menembus perbukitan atau melintasi perbukitan. Walau jalannya tergolong mulus, tapi tanah di pinggir jalannya terlihat sangat rawan longsor.

Malam hari, tiba di Tolai, wilayahnya tergolong sepi, padahal saya menginap di sebuah penginapan di pinggir jalan Trans Sulawesi. Kelelahan, saya memilih untuk tidur saja.

Hari Kedua

Setelah tubuh saya merasa sudah cukup istirahat, hari kedua saya memilih untuk ‘menjelajah’. Seorang teman yang kebetulan sedang bertugas di kabupaten yang sama sudah berjanji untuk mengantar saya menjelajah dan menjadi local guide.

Pemberhentian pertama : Warung Nasi Babi Guling

Jauh-jauh ke pulau Sulawesi, makanan pertama yang saya cicipi adalah nasi babi guling yang baik secara penampilan maupun rasa sangat mirip dengan apa yang biasa saya makan di Bali. Kemudian, saya diajak mencicipi rujak di warung yang sebenarnya berada di depan penginapan saya.

Uniknya, yang menjadi penjual rujaknya adalah transmigran asal Bali juga. Jadi, baik rasa maupun penampilan dari rujak dan es campurnya tidak jauh berbeda. Setelah berbincang dan bertanya-tanya, ternyata memang kebetulan tempat saya menginap tersebut dikelilingi oleh dusun yang diisi oleh orang-orang dari Bali. Pantas saja!

Pemberhentian kedua : Pantai Tumpapa

Melintasi beberapa desa, akhirnya saya tiba di Pantai Tumpapa, sebuah pantai yang sepertinya memang direncanakan untuk menjadi objek wisata andalan dari Kabupaten Parimo. Fasilitas penunjangnya pun sudah terlihat lengkap walau harus diakui masih seadanya.

Disinilah, untuk pertama kalinya, saya diajak untuk mencicipi pisang goreng + sambal. Oke, sebagai orang yang sebenarnya tidak suka pedas, makanan ini terasa nyeleneh. Tapi, entah kenapa, makin dimakan rasanya makin asik.

Niatnya sih mau menikmati sunset di pantai ini, tapi ternyata pantai ini menghadap ke timur sehingga hal itu tidak memungkinkan dan jaraknya memang cukup jauh, sekitar 15 km dari tempat saya menginap.

Hari Ketiga

Hari ketiga dipenuhi dengan berkunjung ke rumah saudara, (mantan) tetangga dan kenalan dari keluarga saya yang bertransmigrasi ke Sulawesi pada tahun 70-an. Sebagai bocah yang lahir pada tahun 1996, saya hanya mengenal beberapa orang disana. Itu pun karena orang-orang tersebut sebelumnya pernah berkunjung ke Bali beberapa tahun lalu.

Di hari ini pula, saya mencapai level kekenyangan baru. Karena, hampir setiap rumah menawarkan kami untuk makan. Jika tidak menerima, rasanya tidak enak, tapi jika diterima, perut rasanya sudah mau meletus. Pengalaman makan yang luar biasa.

Hari Keempat

Hari keempat adalah hari dimana kami harus ‘kembali’ ke Palu. Berpisah dengan keluarga, kenalan dan (mantan) tetangga. Untuk pertama kalinya, saya berada di sebuah suasana yang dari luar tampak senyum dan bahagia, tapi juga ada suasana sedih dan haru yang sulit saya jelaskan.

Perjalanan kembali ke Palu dari Parimo sama ‘berat’nya dengan perjalanan hari pertama. Bedanya, jika di hari pertama, perjalanan ditempuh pada malam hari, perjalanan kali ini ditempuh pada siang hari yang benar-benar panas.

Sampai di Palu, tujuan utama kami adalah menuju Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha. Sebagai orang yang tinggal di Bali, dimana mayoritas beragama Hindu, saya sendiri sering merasa malu pada diri sendiri karena melihat saudara-saudara Hindu di luar Bali justru lebih taat dan khusyuk dalam beribadah dibanding saya di Bali.

Pura terbesar di kota Palu ini terbilang sangat megah, apalagi mengingat agama Hindu bukanlah mayoritas di Sulawesi Tengah. Fasilitasnya mulai dari kantin, toilet hingga kalau saya tidak salah juga ada semacam ruang kelas untuk belajar juga ada di areal Pura ini.

Malam harinya, teman saya kebetulan juga sedang berada di Palu dan kembali mengajak jalan-jalan. Wah, emang beruntung kali jalan-jalan ke Sulawesi Tengah saat dia sedang tidak bertugas. Saya diajak ke Palu Grand Mall, rencana awalnya untuk menonton film, tapi karena tiket yang tersisa hanya untuk film horror. Niat itu diurungkan.

Jauh-jauh ke Sulawesi Tengah, menghabiskan waktu di mall, dan apa yang kami lakukan? Push rank Mobile Legends. Lebih tepatnya sih menghabiskan waktu untuk mengobrol seputar kehidupan sekolah beberapa tahun lalu dan apa rencana kami masing-masing untuk masa depan nanti.

Hari Kelima

Hari kelima hanya diisi berwisata ke Monumen Nosarara Nosabatutu dan berbelanja oleh-oleh. Monumen ini terletak diatas bukit dan dari puncaknya kita bisa melihat kota dan teluk Palu. Tempat ini sepertinya masih dalam proses penyempurnaan karena jika sudah benar-benar ‘jadi’, maka akan jadi tempat wisata yang sangat wajib dikunjungi.

Setelahnya, saya menuju bandara untuk kembali pulang. Banyak hal berkesan selama lima hari di Sulawesi yang tidak semuanya bisa saya ceritakan karena suatu dan lain hal.

Tapi, satu hal yang selalu saya sukai dari berjalan-jalan ke luar daerah adalah belajar dan semakin menyadari bahwa setiap daerah itu berbeda dan unik.