Catatan

Kurang Berkarya

Antara tahun 2012 hingga 2014, saya adalah tipikal orang yang “bertindak dulu, berpikir kemudian”. Tidak heran kalau akhirnya saya menghabiskan banyak waktu, tenaga dan uang untuk hal-hal yang akhirnya tidak jadi. Seperti membuat blog wallpaper, aplikasi Android hingga situs streaming musik. Tapi, setelah saya sekian lama, akhirnya saya sadar bahwa pada tahun-tahun tersebut saya memiliki karya.

Saya membuat situs yang kontennya sebagian besar merupakan gambar, hampir semuanya bukan gambar buatan saya (100% hasil pencarian di Google) namun setidaknya itu sebuah karya. Saya membuat aplikasi Android yang berbasis web yang kontennya hanya berupa gambar bahkan hingga bekerjasama dengan salah satu channel BBM, terlepas seberapapun ‘iseng’ dan tidak bergunanya hal tersebut, setidaknya itu sebuah karya.

Sejak tahun 2015 hingga sekarang, saya lebih banyak fokus pada dua bidang yaitu menulis seputar apa yang benar-benar menjadi bidang saya dan setahun belakangan mulai sering terlibat dalam pembuatan video sederhana. Keduanya masih bisa disebut berkarya, walau tidak seekstrim dulu. Dan setelah merenung beberapa hari ini, saya akhirnya menemukan setidaknya dua penyebab kenapa semakin hari sepertinya karya yang bisa saya hasilkan semakin sedikit :

Tidak Punya Tujuan

Oke, mungkin tidak senestapa itu, tapi ketika seseorang tidak punya tujuan yang ingin dicapai, dia akan cenderung hidup nyaman dan menerima segalanya. Lima hingga tiga tahun lalu, saya masihlah seorang siswa sekolah menengah yang butuh jati diri dan pembuktian bahwa saya juga bisa melakukan sesuatu. Jadi, karya-karya saya punya sebuah tujuan, yaitu bukti eksistensi saya saat itu.

Tapi, hari ini, saya menulis tanpa orientasi apapun, bukan untuk uang, bukan untuk mendapat pembuktian dan itu adalah yang buruk. Kehilangan tujuan sama saja kehilangan motivasi, efek dominonya, saya jadi merasa tidak punya keharusan dalam menulis atau berkarya.

Terlalu Nyaman

Efek dari tidak punya sebuah tujuan dalam berkarya, membuat saya lebih berada di zona yang sangat nyaman. Zona dimana lebih banyak diisi dengan menikmati karya orang lain, seperti bermain game dan menonton video tanpa ada keinginan untuk membuat karya.

Padahal, dulunya, jika melihat sebuah karya yang menarik, setidaknya saya akan berusaha mempelajarinya bahkan menconteknya bila perlu. Tapi, hari ini, rasa dan keinginan itu sama sekali tidak pernah muncul lagi. Kenyamanan yang saya rasa saat ini benar-benar memenjarakan keinginan untuk berkarya.

Untuk ‘menghancurkan’ apa yang belakangan ini memenjarakan keinginan berkarya, saya akan melanjutkan dan MENYELESAIKAN sebuah cerita bersambung yang sudah saya tulis dua tahun lalu berjudul “Cerita Sang Naga”. Chapter baru akan ditambahkan setiap minggunya disamping tulisan-tulisan lain di blog ini.

Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Apple Pie Smoothie Bowl
Aneka Kue Tradisional Indonesia yang Bisa Dibuat Tanpa Oven
Inilah Komponen pada Kulkas dan Fungsi Tiap Bagiannya
4 Minuman Teh Unik dari Seluruh Dunia
Kenapa Sulit Menolak Minuman Bersoda?
SAO II Sinon
SAO Wallpaper Kini Tersedia di CNET
Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play
Review LIT High Performance In-ear Earphone dari SOUL
Kesan Bermain Tyranny
Review HP Gaming Headset H300
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron