Kesan Bermain Detroit : Become Human

Dalam urusan bermain game, saya sebenarnya tidak pilih-pilih, mulai dari game indie hingga game dari developer besar, dari genre FPS, adventure, puzzle hingga horror bisa saja mainkan. Tapi, saya lebih suka dengan game yang memiliki jalan cerita yang detail, mendalam dan menarik.

Salah satu developer yang gamenya selalu saya tunggu-tunggu adalah Telltale. Mereka membuat game dengan jalan cerita sebagai fokus utama dan grafis yang terkesan ‘kartun’ namun justru memberi warna lain pada game buatan mereka. Sayangnya, belakangan ini game dari Telltale terkesan monoton dan tidak memberikan banyak terobosan-terobosan baru.

Sambil menunggu game-game berikutnya dari Telltale, saya punya kesempatan untuk bermain Detroit : Become Human, sebuah game yang awalnya muncul sebagai Tech Demo berjudul “Kara” pada 2012 lalu untuk PlayStation 3, diumumkan secara resmi pada 2015 hingga akhirnya dirilis pada 2018.

Apa itu Detroit : Become Human?

Detroit : Become Human berfokus pada tiga karakter utama yaitu Markus, Kara dan Connor. Ketiga karakter utama ini merupakan android, sebuah ‘manusia buatan’ yang diciptakan untuk memudahkan tugas-tugas manusia di segala sektor. Para android mampu melewati “Turing Test”, sebuah tes yang membedakan komputer dan manusia, namun mereka tetap diprogram untuk patuh pada manusia.

Kara adalah robot pengasuh dan asisten rumah tangga yang ditugasi mengurus rumah dan menjaga seorang gadis kecil bernama Alice. Markus sendiri merupakan android yang membantu seorang manula melakukan kesehariannya. Sementara, Connor merupakan android paling canggih yang memiliki fungsi sebagai detektif dan membantu kepolisian Detroit.

Jalan cerita dari Detroit : Become Human bergantung pada keputusan dan tindakan yang dilakukan ketiga karakter ini, bahkan bisa berakhir dengan hal-hal tidak terduga.

Review Detroit : Become Human

(+) Parkour!

Walau sebenarnya bukan ‘menu utama’ dari game ini, tapi saya jatuh hati dengan elemen parkour yang ada pada game ini. Parkour pada game ini mirip seperti apa yang ada di Dying Light, yaitu pilihan jalur yang kita pilih bisa menentukan jalan cerita dan keberhasilannya.

(+) (Bukan) Penantian Sia-Sia

Detroit : Become Human memakan waktu cukup lama dalam masa pengembangan dan pembuatan. Tidak heran mengingat proses motion-capture dan animation-nya saja memakan waktu lebih dari satu tahun. Belum lagi fakta bahwa game ini melibatkan sekitar 250 aktor untuk 500 peran lebih di dalam game dan dikerjakan oleh lebih dari 200 orang.

Untungnya, game ini bukanlah penantian sia-sia melihat dari angka penjualan awal serta respon dari para kritikus maupun gamer.

(+) Aktor Utama yang “Pas”

Game yang menggunakan motion-capture cenderung memang menghasilkan gerakan karakter yang lebih halus, namun di sisi lain juga membuatnya sedikit lebih terbatas dibandingkan game yang tidak menggunakannya.

Khusus untuk Detroit : Become Human, game ini memilih aktor-aktor utama yang “pas”. Saya tidak bisa bilang kalau akting mereka kurang bagus atau luar biasa, namun pemilihan aktor-aktor tersebut terasa sangat pas dengan peran yang mereka mainkan.

(+) Flowchart

Selama bermain game-game dari Telltale, saya selalu ‘menebak-nebak’ pilihan mana yang akan memiliki cabang ataupun dampak pada keseluruhan game. Namun, Detroit : Become Human memberikan jalan tanpa harus merusak pengalaman bermain dengan menghadirkan Flowchart.

Namun, walau Flowchart memberi gambaran jelas mengenai keputusan mana yang ‘penting’ namun tetap ada jalan cerita tersembunyi yang tidak muncul dalam flowchart ini, membuat bermain ulang terasa ‘wajib’.

(+) Jakarta : Become Human

Ada banyak hal yang game lain bisa pelajari dari Detroit : Become Human, terutama bagaimana game ini memaksimalkan latar belakang cerita menjadi aspek unik dalam permainan.

Saya juga tidak akan keberatan jika game ini pada akhirnya mendapat sekuel, baik itu menggunakan latar belakang tempat yang sama maupun mencoba eksplorasi tempat lain misalnya Tokyo : Become Human atau bahkan Jakarta : Become Human.

(-) Gerakan Kamera Bikin Kesel

Sudut pandang menjadi elemen penting dalam sebuah game yang berfokus pada cerita sebagai menu utamanya, Detroit: Become Human memang memberikan pilihan yang memungkinkan momen-momen penting terlihat sebagai sebuah cut scene.

Namun, saat bermain, ada beberapa tempat dan situasi yang membuat gerakan kamera terasa tidak alami dan kadang justru bikin kesal sendiri. Memang ada pilihan untuk mengubah sudut pandang kamera 180 derajat, tapi lebih baik jika kamera ini bisa menyesuaikan sendiri.

(-) Pilihan hanya “Hitam – Putih”

Sebagai sebuah game yang sebenarnya penuh dengan potensi, Detroit : Become Human cenderung hanya memberikan dua pilihan utama, yaitu menjadi baik atau menjadi jahat. Memang tidak ada yang salah dengan hal itu, namun seharusnya game ini memberikan pilihan yang bisa lebih beragam lagi.

Walau beberapa pilihan memang memungkinkan untuk menjadi netral, namun pada akhirnya pilihan tersebut akan jatuh ke sebuah pilihan besar untuk menjadi ‘hitam’ atau menjadi ‘putih’.