Catatan

Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play

Loadout mungkin bukan nama game yang seterkenal Playerunknown’s Battlegrounds (PUBG) atau DOTA 2, tapi pada masa jayanya, game ini pernah memiliki hampir 30 ribu pemain yang bermain bersamaan di Steam. Walaupun ‘masa jaya’ tersebut hanya berlangsung selama satu bulan, yaitu Februari 2014.

Jadi, ceritanya, ada sebuah developer bernama Edge of Reality yang sudah mulai mengembangkan dan memamerkan game mereka sejak 2012. Sebuah game bergenre Arena Shooter dengan tambahan elemen seperti weapon crafting, character customization dan beberapa elemen dewasa seperti gore dan nudity. Banyak orang mungkin percaya bahwa game ini akan memberi sedikit warna baru pada genre shooter.

Akhirnya, pada akhir Januari 2014, game ini dirilis secara resmi untuk PC. Dan setelah itu… Tidak ada apapun lagi. Oke, mungkin terlalu berlebihan jika mengatakan tidak ada apapun lagi setelah perilisannya pada Januari 2014. Tapi, Loadout untuk PC hanya mendapat 4 kali update dan update terakhir adalah pada Juni 2014. Masalahnya, kebanyakan isi update tersebut adalah perbaikan bug dan penambahan konten, sementara game bergenre arena shooter, umumnya juga memasukan stats balancing pada update-update mereka.

Setelah update 4.0 tersebut, Edge of Reality hanya fokus pada dua hal yaitu mode PVE dan melakukan porting Loadout menuju PS4. Efeknya, sejak Juni 2014, rata-rata pemain Loadout tiap bulannya kurang dari 1000 orang. Pada akhir 2014, developer ini menyelesaikan porting Loadout dan merilis game ini pada PS4. Sayangnya, versi PS4 justru bernasib lebih buruk karena hanya mendapat dua kali update, dimana update terakhir adalah pada Maret 2015.

Setelah itu… seakan Edge of Reality benar-benar ditelan bumi. Tidak satu pun dari developer muncul ke permukaan untuk menangani keluhan, saran atau kritik dari komunitasnya. Pada 2015 jugalah, Edge of Reality mulai menutup server mereka dan hanya menyisakan server North America dan Europe. Pada akhir 2015, Facebook Page Loadout sempat mengupdate jika server mereka bermasalah dan sedang diperbaiki. Dan setelah itu… benar-benar tidak ada apa-apa, tidak ada update apapun.

Desember 2016, Facebook Page Loadout sekali lagi memberi update jika server mereka mengalami gangguan dan mereka berusaha memperbaikinya. Pada post inilah, komunitas akhirnya mendapat kepastian seputar nasib Loadout.

  1. Edge of Reality mengalami masalah keuangan, uang yang didapat dari micro transaction hanya cukup untuk membayar biaya server sehingga mereka kesulitan dalam memberi tambahan konten ataupun update baru.
  2. Server akan dibiarkan tetap hidup sehingga para pemain masih bisa memainkan game ini, tapi jika sampai pada satu titik dimana biaya server tidak mungkin lagi untuk dibayarkan dari uang yang didapat dari game, maka akan ada pemberitahuan jika server akan ditutup.

Pendapat tentang Loadout

Loadout sebenarnya punya potensi menjadi game yang lumayan populer, terutama bagi mereka yang sekedar ingin mencari hiburan atau bermain bersama teman. Walau saya pribadi meragukan jika game ini sejak awal didesain untuk menjadi eSport. Masih menurut pendapat pribadi saya, Edge of Reality, mereka punya dua kesalahan :

Melupakan Komunitas PC

Loadout memperkenalkan diri sebagai game PC, memiliki saingan game-game seperti Team Fortress 2, Quake dan Unreal Tournament. Loadout hadir sebagai game yang menghadirkan elemen kartun yang penuh lelucon dan grafis yang lebih baik dibanding game-game lain pada masa itu.

Loadout seharusnya cukup fokus pada dua hal saja pada awalnya yaitu balancing sehingga permainan terasa lebih adil dan sesekali melakukan penambahan konten seperti kosmetik. Jika memungkinkan, Loadout melakukan lebih banyak event dan memberi kesempatan para pemain mendapat kosmetik limited atau mendapat kosmetik premium hanya dengan bermain (tanpa membeli).

Sayangnya, Edge of Reality justru fokus pada hal lain, salah satunya adalah porting ke PS4.

Porting Sebuah Konsep yang Belum Matang

Loadout awalnya adalah sebuah passionate game dari sebuah developer indie yang secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa game ini dibuat bukan untuk menjadi game besar dan kompetitif, tapi sepertinya hype yang lebih besar dari dugaan membuat developernya berubah haluan dan ingin menjangkau pangsa pasar yang lebih besar

Alih-alih mematangkan konsep game ini di PC terlebih dahulu, hanya dalam beberapa bulan, mereka langsung membawanya ke PS4. Memang sih, jumlah pemain Loadout bertambah secara masif setelahnya, tapi apa yang diperlukan sebuah game multiplayer, bukanlah jumlah pemain awal yang besar, tapi seberapa para pemain tersebut bisa bertahan dan terus bermain. Dan itulah yang gagal dilakukan oleh Loadout.

Hari ini (Oktober 2017), jumlah pemain Loadout mungkin berkisar diantara 100-300 orang di PC, masih cukup jika ada pemain baru yang ingin bermain. Sayangnya, ketidakjelasan nasib Loadout ke depannya membuat banyak orang takut untuk menginvestasikan waktu, tenaga dan uangnya pada game ini.

Loadout sebenarnya punya beberapa solusi yang menurut saya pribadi, MUNGKIN akan berhasil :

  1. Melakukan crowdfunding. Crowdfunding disini memiliki dua tujuan, yaitu mengumpulkan dana dan melihat seberapa besar hype yang masih dimiliki game ini. Uang tersebut bisa digunakan untuk membiayai server sedikit lebih lama sambil memikirkan strategi lainnya untuk menghidupkan game ini lagi. Jika uang yang terkumpul cukup banyak, maka developer bisa melakukan re-launch dengan fokus pada PC terlebih dahulu dan penambahan konten-kontennya.
  2. Membuka Steam Workshop. Hal yang satu ini mungkin akan memerlukan sumber daya yang cukup besar pada awalnya, bisa dari crowdifunding atau investor. Dengan membuka Steam Workshop, developer akan memperingan beban mereka sendiri, dimana komunitas akan membantu dalam hal konten sementara developer bisa fokus pada meningkatkan performa, stabilitas dan memikirkan hal-hal yang bersifat lebih jangka panjang.
  3. Menjual Loadout. Player base Loadout mungkin saat ini tidak seberapa, tapi saya pribadi masih cukup yakin, jika game ini melakukan re-launch, akan ada orang-orang baru atau orang-orang lama yang kembali. Tapi, masalahnya, Loadout adalah sebuah game yang sejak awal memiliki unsur gore dan nudity yang mungkin akan sedikit menyulitkan dan menurunkan minat perusahaan lain untuk membeli IP-nya.

Oke, apapun yang akan terjadi pada Loadout, game ini bisa menjadi contoh bahwa sebuah game yang sebenarnya lumayan bagus, tidak akan bisa sukses jika tidak berada di tangan, waktu dan keadaan yang tepat.

Resep Membuat Kue Putri Salju
Cara Mengobati Flu dengan Cepat
Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Hati-Hati! 4 Penyakit Ini Ternyata Berbahaya Bagi Pengemudi Mobil
Selain Ilija Spasojevic, Ini 4 Pemain Sepakbola yang Tinggal Menuggu Jadi WNI
5 Momen Pertama yang Jangan Sampai Dilewatkan Sebagai Orangtua
Inilah Komponen pada Kulkas dan Fungsi Tiap Bagiannya
Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play
Review LIT High Performance In-ear Earphone dari SOUL
Kesan Bermain Tyranny
Review HP Gaming Headset H300
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron