3 Hal yang Sebaiknya Jangan ‘Didoktrin’ pada Anak Laki-Laki

Semasa SMA, saya cukup familiar dengan program Keluarga Berencana (KB) karena pernah beberapa kali ikut serta dalam kompetisi menulis artikel mengenai topik ini. Slogan yang dibawa oleh program KB adalah "Dua anak cukup", tapi belakangan slogan ini dibuat sedikit lebih panjang menjadi "Dua anak cukup, laki-laki atau perempuan sama saja". Kenapa?

Kita hidup di Indonesia dimana ada berbagai kultur dan budaya yang berbeda. Mau diakui atau tidak, beberapa kultur memang lebih 'mendambakan' anak laki-laki, setidaknya ada satu anak laki-laki dalam keluarga. Tidak heran jika ada yang sampai mencari artikel seputar ciri-ciri hamil bayi laki-laki yang akurat dari berbagai sumber akurat. Pada dasarnya, baik anak laki-laki atau perempuan itu sama saja dalam banyak aspek kehidupan, tapi pada artikel kali ini, ada beberapa 'doktrin' yang sebaiknya jangan lagi diberikan pada anak laki-laki.

Anak Laki-Laki Jangan Menangis

Banyak orangtua yang sering berkata pada anak laki-lakinya, "Laki-laki tidak boleh nangis", sayangnya selain hal ini kurang tepat, juga sebenarnya tidak sehat. Ada beberapa studi yang menemukan hubungan antara kesehatan mental dengan emosi yang tidak tercurahkan. Efek negatif pada kesehatan mental ini tidak dipengaruhi oleh gender sama sekali.

Jadi, anak laki-laki boleh saja menangis untuk mengekspresikan dan mencurahkan perasaannya. Menangis adalah cara yang baik untuk melepaskan kesedihan dan ketakutan yang mendalam, yang pada dasarnya bisa terjadi pada siapapun.

Anak laki-laki juga tidak boleh 'didoktrin' untuk selalu menjadi 'tangguh' dan 'kuat'. Pada beberapa situasi, menjadi lebih lembut terkadang sangat membantu dalam kehidupan.

Jangan Kayak Cewek

Oke, ini sebenarnya poin yang agak sensitif. Jadi, saya perlu klarifikasi dahulu.

Masih banyak orangtua yang memandang bahwa anak laki-laki itu haruslah bermain permainan yang menjadi stereotip anak laki-laki seperti perang-perangan, sepakbola dan lainnya. Tapi, terkadang, ada anak laki-laki yang lebih memilih melukis, bermain peran, menari dan aktivitas lain yang tidak masuk dalam stereotip anak laki-laki tersebut dan disebut "kayak cewek" oleh banyak orangtua.

Jika memandang dari segi kesehatan mental, tidak ada salahnya membiarkan seorang anak laki-laki memilih aktivitas yang mereka sukai. Justru, melarang mereka melakukan apa yang mereka sukai merupakan tindakan yang sangat salah oleh banyak orangtua. Seorang anak laki-laki yang lebih gemar menari dibanding bermain sepakbola, bukan berarti dia akan otomatis tumbuh menjadi (maaf) banci, tapi dia sudah menunjukkan minat dan bakatnya untuk menjadi seorang penari di masa mendatang. Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Satu kalimat lagi, seorang anak perempuan yang ketika kecil gemar bermain dengan tanah dan pasir tidak otomatis tumbuh menjadi wanita yang agresif kan?

 

Jadilah Seperti Ayah

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika seorang anak laki-laki ingin tumbuh seperti figur ayahnya. Apa yang salah adalah ketika hal itu dipaksakan pada si anak. Tidak ada yang salah ketika seorang anak laki-laki ingin menjadi seorang pengusaha seperti kakeknya, seorang pekerja kantoran seperti pamannya atau seorang desainer seperti idolanya dan bukan menjadi seorang tentara seperti ayahnya.

Dibandingkan mewajibkan anak menjadi 'versi lain' dari ayahnya, orangtua harusnya membiarkan anak laki-lakinya menjadi apapun yang diinginkannya. Tapi, tetap harus dibina dan dididik agar tidak keluar dari jalur-jalur yang benar.

Bakat Anda, Modal Anda Membuat Usaha Sampingan
How to Become a Guest Speaker at Branded Events
Tips Mencari Rumah Dijual di Jakarta
3 Hal yang Sebaiknya Jangan ‘Didoktrin’ pada Anak Laki-Laki
Apa Sebenarnya Manfaat Minum Air Hangat Ditambah Perasan Lemon?
Alasan Kenapa Memiliki Sepeda Motor Listrik di Indonesia itu Menguntungkan
Pentingnya Memperhatikan Suku Bunga Sebelum Melakukan Pinjaman
4 Penyebab Kulit Kering yang Jarang Diketahui
Tips, Trik dan Cheat BarbarQ
Vainglory Red Lantern 2018 Event
Balik Lagi ke Vainglory
4 Soundtrack Terpopuler dari Film-Film Indonesia
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron