Gaming Burnout, ‘Penyakit’ Berbahaya Bagi Gamer (Serius Nih)

Gaming burnout bisa dideskripsikan dengan satu kalimat ini:

“Getting too bored, too fast” – Terlalu cepat bosan

Banyak orang menganggap bahwa seseorang yang hobinya bermain video game itu pasti punya terlalu banyak waktu luang dan sumber daya sehingga bisa menggunakannya untuk bermain game. Tapi, anggapan itu sering kali, bahkan sering banget salah. Orang yang suka bermain video game itu tidak ada bedanya dengan orang yang hobinya memancing, naik sepeda gunung atau berburu.

Bagi orang di luar lingkaran mereka, hobi mereka tergolong ‘kurang lazim’ dan tidak ada seru-serunya. Bahkan, hobi-hobi yang saya jadikan contoh tersebut sering dipandang sebelah mata. Padahal, banyak yang tidak tahu bahwa harga pancing, sepeda gunung, senapan berburu maupun video game itu TIDAK MURAH.

Bedanya orang yang suka bermain game dengan ketiga hobi lainnya adalah pemain video game lebih sedikit berinteraksi langsung dengan alam dan luar ruangan. Tapi, bukan berarti mereka yang hobi bermain video game langsung di cap introvert dan anti-social. Faktanya, sebagian besar game saat ini memiliki fitur multiplayer yang memungkinkan para pemainnya untuk saling berinteraksi.

Oke, kembali ke ‘penyakit’ gaming burnout.

Saya pribadi merasa dan teman-teman terdekat saya juga sepertinya menyadari bahwa saya mengidap ‘penyakit’ ini. Buktinya? Sederhana, saya punya puluhan game yang didapatkan dengan hasil membeli baik itu di Steam, Battle.Net (Blizzard), maupun PS4, namun saya masih merasa tidak puas dan merasa tidak memiliki game untuk dimainkan.

Belum lagi kalau saya baru membeli game baru, entah itu game indie seharga 100 ribu atau game AAA seharga 700 ribu, perlakuannya sering kali sama. Saya hanya akan ‘tahan’ untuk bermain game tersebut selama kurang lebih seminggu atau dua minggu, lalu tidak akan pernah menyentuhnya lagi.

Hal paling buruk terjadi ketika saya sedang bingung mau main apa, menemukan sebuah game yang dirasa bagus, membeli, mendownload dan mencoba memainkannya. Ternyata gamenya tidak seseru bayangan awal, maka game tersebut hanya akan jadi penghias library game saja.

Gaming burnout sebenarnya sangat ‘berbahaya’ bagi banyak pemain video game. Alasan utamanya apalagi kalau bukan uang yang jadi terbuang sia-sia untuk game yang tidak dimainkan. Sama saja seperti orang yang hobi berburu, membeli senapan seharga puluhan juta, namun tidak pernah dipakai untuk menembak buruan.

Menariknya, Gaming burnout adalah sesuatu yang sangat lumrah. Bahkan, beberapa web yang mengkhususkan diri untuk membahas video game memberikan beberapa tips untuk mengatasi hal ini.

Lakukan Apapun di Dalam Game!

Video game tetaplah sebuah video game, lakukan apapun yang kita inginkan di dalam game tersebut. Ingin menjadi orang jahat dan membunuh semua karakter lainnya, silakan. Bermainlah tanpa memperhatikan objektif yang diberikan game dan ciptakan objektif sendiri. Tidak semua objektif yang diberikan oleh game harus dilakukan dan tidak ada yang pernah mewajibkan kita untuk menyelesaikannya.

Hal ini juga berlaku untuk menggunakan cheat pada single-player game. Tidak ada yang pernah melarang untuk menggunakan cheat pada single-player game. Lihat saja bagaimana Skyrim, Fallout dan GTA ‘mengijinkan’ penggunaan cheat in-game yang pada akhirnya membuat pemain selalu punya sesuatu untuk dilakukan.

Ganti Genre / Mainkan Indie Game

Oke, anggaplah saya adalah pecinta game dengan genre RPG, MOBA dan First-Person Shooter. Maka, untuk mengatasi gaming burnout, saya bisa mencoba genre lainnya seperti Puzzle, Tower Defense dan lain sebagainya. Tapi, hanya sekedar mengganti genre juga kadang berisiko membuat kita juga ikut jenuh terhadap genre-genre lain dan pada akhirnya kebal dengan pergantian genre dalam bermain video game.

Indie game juga bisa menjadi alternatif selain mengganti genre. Indie game ‘dianugerahi’ dengan kekurangan sumber daya dibandingkan developer besar sehingga akan melakukan apapun sesuai kreativitas mereka untuk membuat gamenya tampil lebih ciamik dengan biaya semurah mungkin.

Menonton Video/Film dan Membaca Buku yang Masih Berhubungan

Video game memang media hiburan interaktif, tapi terkadang, menjadi penonton pasif juga tidak kalah menyenangkannya. eSport kini juga semakin ramai dan punya jadwal turnamen hampir setiap minggunya. Jadi, kalau sedang bosan bermain game, tidak ada salahnya menonton orang lain memainkan game yang kita sering mainkan, siapa tau bisa menambah ilmu dan kemampuan dalam bermain.

Menonton film yang masih berhubungan misalnya dokumentari pembuatan game dari developer, atau film-film perang bagi yang suka game perang, film fantasi bagi pecinta game RPG dan JRPG.

Pilihan lainnya adalah membaca buku-buku yang masih berhubungan atau buku apapun boleh. Intinya, jauhkan diri dulu sementara waktu dari keyboard, mouse dan controller.

Kurangi Konsumsi Berita Game Baru

Saat sebuah game baru dirilis, bahkan beberapa bulan sebelumnya, banyak web berita dan Youtuber biasanya sudah memberikan gambaran seperti apa game baru tersebut dan hal-hal menyenangkan di dalamnya. Terkadang, ‘membeli kucing dalam karung’ dan mendapatkan permata, jauh lebih menyenangkan daripada membeli kucing dalam karung dan akhirnya hanya mendapat kucingnya.

Berita game membuat opini kita jadi terarah sesuai penulis dari berita tersebut. Contoh sederhananya, sampai hari ini, saya masih menganggap bahwa Borderlands adalah seri video game yang bagus, termasuk dari Borderlands dari Telltale. Apapun kata orang lain dan reviewer, bagi saya, Borderlands tetaplah game yang bagus.

Terkadang, lebih baik untuk tidak mengetahui sesuatu daripada mengetahui segalanya.