Blogger

Dari Blogger Menuju Content Creator

Selama 7 tahun terakhir, saya sudah ‘mengotori’ internet dengan berbagai jenis konten teks, mulai dari yang galau-galau marshmallow sampai yang benar-benar serius. Tapi, mulai tahun ini sepertinya hal itu akan sedikit berubah. Alasannya sederhana, karena perubahan perilaku pengguna internet dan apa yang terjadi pada saya. Dua alasan ini yang pada akhirnya membuat saya secara mau tidak mau harus menyesuaikan diri.

Perubahan Perilaku Pengguna Internet

Sejak awal tahun 2017 ini, saya memperhatikan bahwa perilaku pengguna internet, khususnya yang ada di sekitar saya berubah ke arah yang sudah bisa ditebak. Tahun lalu diprediksi menjadi bangkitnya konten-konten visual seperti gambar, infografis dan video, dan itulah yang sedang terjadi saat ini (Rekomendasi baca : Prediksi SEO 2016). Konten berupa tulisan mungkin masih merupakan yang mendominasi, tapi bukan berarti merupakan yang paling dicari dan disukai.

Sebagai individu yang punya keinginan untuk menjadi ‘pengisi’ internet Indonesia, perubahan perilaku dari pengguna ini haruslah menjadi perhatian. Ini menandakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, konten visual akan sama banyaknya dengan konten tulisan DAN… jika ingin ide-ide saya tetap ‘dinikmati’ banyak orang, maka saya juga harus mulai membuat konten visual.

Perubahan Pribadi

Source : www.jeremyriad.com

Belakang ini pun, saya semakin sering menggunakan kamera dan belajar penggunakan software editing video seperti Wondershare Filmora dan Adobe Premiere entah karena tugas kuliah atau hanya sekedar iseng semata. Dan karena beberapa alasan, saya juga semakin sering menggunakan Photoshop dan belajar menggunakan Adobe CorelDraw dan Illustrator.

Apa yang saya pelajari saat membuat konten visual adalah pepatah “Gambar bisa mewakili 1000 kata” hanya sebatas pepatah. Karena menyampaikan maksud yang harusnya dituliskan dengan 1000 kata hanya dengan sebuah gambar adalah hal yang sangat-sangat sulit. Saat membuat konten video pun, saya mempelajari bahwa jika sebuah tulisan dan gambar hanya menghibur mata, maka video perlu menghibur mata dan telinga. Saya belajar bahwa perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah konten video, berbeda dengan tulisan yang sering dilakukan secara spontan.

Dua hal diatas membuat saya bertanya seputar identitas yang saya tempelkan pada diri, yaitu seorang “Blogger”. Lama kelamaan, istilah ini menjadi tidak relevan dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan. Blogger adalah sebutan untuk mereka yang mengelola sebuah blog. Sejak awal sejarahnya, blog lebih cenderung menggambarkan konten berupa teks. Jadi, mungkin saat ini lebih tepat menyebut diri sebagai “Content Creator”, walau istilah ini lebih populer dipakai oleh para Youtuber, tapi kata konten sendiri bisa mewakili teks, gambar dan video di saat yang bersamaan.

Tulisan ini sebenarnya tidak ada manfaat apapun, hanya ingin sekedar menuliskan apa yang sedang saya rasakan dan sebenarnya membuat semi-semi galau.

Resep Membuat Kue Putri Salju
Cara Mengobati Flu dengan Cepat
Ingin Memiliki Mobil Sebelum Usia 30 Tahun? Tentu Saja Bisa!
Cara Terbaik Merekam Game di Android
Hati-Hati! 4 Penyakit Ini Ternyata Berbahaya Bagi Pengemudi Mobil
Selain Ilija Spasojevic, Ini 4 Pemain Sepakbola yang Tinggal Menuggu Jadi WNI
5 Momen Pertama yang Jangan Sampai Dilewatkan Sebagai Orangtua
Inilah Komponen pada Kulkas dan Fungsi Tiap Bagiannya
Loadout : Kenangan dan Kesalahan Sebuah Game Free-to-Play
Review LIT High Performance In-ear Earphone dari SOUL
Kesan Bermain Tyranny
Review HP Gaming Headset H300
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron