Bicara tentang Nasib Vainglory

Saya sudah bermain Vainglory sejak 2015, hanya beberapa bulan setelah game ini dirilis untuk perangkat Android. Pada masa itu, game ini adalah game MOBA terbaik untuk perangkat mobile. Game-game lain masih terlalu terpatok pada konsep MOBA di PC yang diaplikasikan mentah-mentah pada perangkat mobile, tapi Vainglory berhasil menyederhanakannya dan membuatnya begitu nyaman untuk iOS dan Android.

Hampir 3 tahun berselang, hari ini, Vainglory tidak lagi sendirian di genre mobile MOBA. Ada setidaknya tiga game MOBA yang benar-benar mendominasi pasar mobile MOBA saat ini yaitu Mobile Legends, Arena of Valor dan tentu, Vainglory. Sayangnya, tidak seperti ML dan AOV, Vainglory seakan pelan-pelan ditinggalkan para pemainnya, setidaknya itu yang saya rasakan.

Update : Esport dan Marketing ala Superevil Megacorp

Setelah menonton video dari orang-orang yang cukup dekat dengan Superevil Megacorp (SEMC) seperti Rumblysuperset, FlashX dan Excoundrel. Saya akhirnya mengerti apa yang terjadi pada Vainglory saat ini. Dan semua kisah ini dimulai pada akhir tahun 2016.

Pada Desember 2016, SEMC mengumumkan bahwa mereka akan memulai program franchise pada tahun 2017. Berbeda dengan franchise yang kita kenal dimana orang yang ingin ikut sertalah yang harus membayar, SEMC justru membayar tim-tim esport untuk mau masuk dan berkompetisi di Vainglory. Saat banyak yang bertanya, kenapa Vainglory tidak pernah punya video promosi/iklan di YouTube seperti Mobile Legends atau AOV? Karena uang promosi tersebut digunakan untuk 'berpromosi' melalui esport.

SEMC berharap tim-tim yang ikut dalam program tersebut untuk menghasilkan konten yang mempromosikan Vainglory ke pada pasar (penggemar) yang sudah mereka miliki. Nah, setelah di evaluasi, ternyata hasilnya sangat jauh dari harapan.

Dari lebih dari 10 tim esport yang masuk dalam program tersebut, yang saya pribadi tahu hanyalah TSM yang benar-benar masih konsisten membuat konten seputar Vainglory, yang masuk dalam seri TSM:Glory. Sementara, tim-tim esport lain antara tidak konsisten bahkan tidak pernah membuat konten Vainglory untuk pasar (penggemar) mereka.

Hal inilah yang pada 2018 menjadi bahan evaluasi dari SEMC. Perusahaan ini bukanlah perusahaan besar seperti Tencent dibalik Arena of Valor. SEMC masih berupa perusahaan rintisan yang uangnya terbatas. Kemungkinan, SEMC akan mengganti metode promosinya dari berinvestasi hanya di esport menjadi cara-cara marketing tradisional seperti yang dilakukan Mobile Legends dan AOV.

Di tahun 2018, Vainglory Esport mungkin tidak akan seramai 2017. Tapi, mungkin kita akan melihat lebih banyak konten promosi dari Vainglory di YouTube, Facebook dan Twitter.

FYI, tim-tim esport tidak pernah "keluar" dari Vainglory Esport, tapi mereka "dipecat" oleh SEMC. Beberapa tim seperti Tribe Gaming dan TSM dirumorkan masih akan bertahan.

Merilis 5v5 Terlalu Cepat?

Menurut saya, Vainglory itu 'dewasa terlalu cepat' dan itu bukanlah hal yang baik. Vainglory memang populer dan berhasil bekerjasama dengan brand-brand besar seperti Razer dan Alibaba. Saat perilisan 5v5, banyak pemain mobile MOBA dari game lain yang akhirnya menunjukan ketertarikan mereka pada game ini dan mencicipinya. Sayangnya, banyak dari mereka yang datang hanya untuk mencicipi dan kembali lagi pada game lamanya.

Vainglory hanya sekedar berhasil menarik, namun tidak berhasil menjadikan para pemain tersebut sebagai pemain tetap. Alasannya? Banyak, mulai dari matchmaking 5v5 yang tergolong lama, sulitnya berkomunikasi saat drafting dan bermain, sulitnya kontrol bagi beberapa orang, banyaknya toxic player di komunitas dan banyak lagi.

Masalah-masalah seperti ini seharusnya sudah bisa diperkirakan sejak awal, bahkan, walau sangat menarik, konsep 5v5 sampai saat ini (versi 3.1) masih belum benar-benar matang. Di satu sisi, Vainglory belum menerapkan in-game chat untuk menghindari perilaku toxic, namun disisi lain, hal ini justru membuat komunikasi dalam permainan jadi sangat sulit.

Masalahnya Bukan Pada Gamenya

Sebagai sebuah game, Vainglory memberikan pengalaman terbaik yang pernah saya rasakan. Grafiknya dioptimasi dengan baik, bug direspon dan diperbaiki secara berkala, balancing yang sangat imbang hingga sentuhan-sentuhan lainnya. Tapi, menurut saya, masalah Vainglory bukanlah pada gamenya itu sendiri, tapi faktor-faktor eksternalnya.

Super Evil Mega Corp terasa terburu-buru merilis mode 5v5, mungkin takut akan Mobile Legends yang semakin dikenal dan perilisan Arena of Valor yang dibekingi Tencent. Dibanding para kompetitornya, Vainglory sangat kering unsur promosi terhadap non-player dan calon playernya. Jadi, tidak heran jika  Vainglory seakan sangat sulit mendapat pemain-pemain baru.

Masalah Semua MOBA Besar

Melihat statistik yang dimiliki oleh dua sesepuh game MOBA di PC yaitu DOTA 2 dan League of Legends (LOL), apa yang dialami Vainglory bukanlah sesuatu yang baru. DOTA 2 pada beberapa bulan belakangan disebut-sebut mengalami penurunan jumlah pemain, namun, dari statistik mereka, jumlah pemain hariannya masih diatas 500.000 pemain aktif, dan itu bukanlah jumlah yang sedikit.

Saat masa-masa awal perilisannya, LOL merilis champion baru hampir setiap 2 minggu sekali. Tidak sedikit yang menganggap mereka terlalu terburu-buru, namun hasilnya, hari ini, LOL memiliki meta yang sangat-sangat beragam, baik di level kasual maupun kompetitif.

MOBA adalah genre yang harus terus berkembang dan beradaptasi untuk tetap 'hidup'. Untuk saat ini, saya pribadi merasa Super Evil Mega Corp selaku developer harus fokus memberikan opsi komunikasi yang lebih baik, minimal adalah chat in-game, tapi kalau bisa sih voice in-game. Berbeda dengan ML dan AOV yang sudah jelas berfokus lebih pada casual gamer, sejak awal, Vainglory memang menaruh fokusnya pada hardcore gamer, karena itulah mungkin mereka agak kesulitan untuk menarik banyak pemain.

Kepopuleran Battle Royale

Penurunan jumlah pemain DOTA 2 pada poin sebelumnya, salah satunya dipengaruhi oleh kepopuleran PUBG dan tentu saja Fortnite di platform PC. Saya juga melihat beberapa streamer dan YouTuber yang awalnya berfokus pada konten MOBA mengalihkan kontennya pada genre Battle Royale. Lalu, apakah mereka salah? Tentu tidak, hal ini disebut sebagai dinamika pasar, saat banyak orang menginginkan konten seputar Battle Royale, tentu 'menjual' konten Battle Royale adalah sesuatu yang tepat.

Di perangkat mobile, genre Battle Royale juga tidak kalah ramainya. Mulai dari Rules of Survival (ROS), Free Fire, PUBG Mobile hingga mungkin dalam waktu dekat akan hadir Fortnite Mobile.

Tapi, kepopuleran Battle Royale seharusnya bukan menjadi halangan bagi game-game MOBA. King of Glory (AOV di Tiongkok) sudah merilis rencana mereka untuk menghadirkan mode mirip Battle Royale dalam waktu dekat, dimana 5 tim yang terdiri atas masing-masing 2 pemain akan saling beradu di sebuah arena baru.

Lalu, sebenarnya bagaimana nasib Vainglory?

Pertama, harus diakui bahwa pertumbuhan Vainglory saat ini (beberapa minggu setelah perilisan mode 5v5) seakan melambat JIKA dibandingkan saat perilisan mode 5v5, tapi jika berkaca jauh ke belakang, sebelum Vainglory 3.0, game ini memang memiliki pertumbuhan pemain baru yang tidak begitu signifikan, karena game ini memang didesain untuk hardcore gamer. Dan kurangnya promosi tradisional dari SEMC>

Kedua, SEMC selaku developer, sepengetahuan saya masih sangat berdedikasi pada game ini dan mereka belum pernah berkata bahwa proses development dari Vainglory sudah selesai. Dalam roadmap 2018nya, mereka menuliskan dua fitur yang sepertinya akan sangat menarik yaitu fitur komunikasi dan fitur progression yang lebih baik.

Jadi, dalam tahun 2018 ini, para pemain Vainglory KEMUNGKINAN akan mendapatkan chat in-game, voice in-game, hero mastery, leaderboard dan sistem ranking yang lebih baik.

Ketiga, Liga Vainglory baru akan dimulai pada Juni 2018. Alasannya? Mungkin kali ini SEMC tidak mau terburu-buru, atau bahkan mereka ingin belajar dari para pesaing dan sesepuhnya.

Liga League of Legends Amerika Utara (NA LCS) tahun ini tergolong sangat menarik, dengan sistem franchise yang dimilikinya, masing-masing tim memiliki waktu dan sumber daya untuk membuat banyak konten yang selain menguntungkan tim juga memiliki kontribusi terhadap liga dan game itu sendiri.

Inti dari tulisan ini, saya tidak yakin Vainglory akan mati dalam waktu dekat ini. Saya pribadi mungkin jarang bermain mode 5v5, tapi Brawl Mode dan Ranked 3v3 masih saya mainkan secara rutin. Jadi, jangan pernah berkata bahwa suatu game yang kalian cintai akan segera mati, jika kalian berkata demikian, mungkin kalianlah yang tidak cocok dengan game tersebut.

Jangan Sampai Salah Memilih AC! Berikut Ini Pilihannya.
Bumbu Masak Nasi Goreng dari Royco Agar Lebih Enak
Bakat Anda, Modal Anda Membuat Usaha Sampingan
How to Become a Guest Speaker at Branded Events
Tips Memilih Asuransi yang Tepat Bagi yang Masih Single
Kenapa Harus Beli Tas Sekolah Asli Buatan Pengrajin Indonesia
Inovasi digital banking
Inovasi Digital Banking Untuk Kemudahan Hidup
Pengertian Dan Jenis Furniture Office
Kesan Bermain Radical Heights
Review ROCK Zircon
Bicara tentang Nasib Vainglory
Kesan Bermain Slay The Spire
VG Lore : Petal
VG Lore : Flicker
VG Lore : The Rise of the Star Queen
VG Lore : Baron