Antara Adsense dan Native Ad

Jika diharuskan memilih antara ingin menampilkan iklan atau tidak di seluruh blog dan website yang saya miliki, saya jujur akan menjawab tidak. Bukan karena naif, tapi karena saya tahu kalau kehadiran iklan secara umum akan membuat loading website lebih lama dan saya pribadi tidak suka website lambat.

Sayangnya, belum pernah ada hujan uang di Indonesia dan biaya operasional website dan blog tersebut belum bisa ditunjang sepenuhnya oleh saya pribadi. Hasilnya, mau tak mau, beberapa diantara website dan blog yang saya miliki harus menampilkan iklan.

Belakangan, muncul model pengiklanan baru yang disebut sebagai "Sponsored Content", "Placement Content" atau apapun namanya. Sebuah bentuk iklan yang tidak bersembunyi di dalam konten. Selain sebagai iklan, dia juga berlaku sebagai sebuah konten untuk website. Contohnya bisa dilihat di kategori Sponsored di blog ini.

Keunggulan Native Ad Dibanding Banner Ad / Adsense

Banner Ad sudah muncul sejak tahun 1994 bahkan masih berjaya selama beberapa tahun terakhir. Sayangnya kesuksesan model iklan ini harus berakhir karena semakin cerdasnya pengguna internet yang dengan mudah membedakan antara iklan dan bukan serta anggapan umum bahwa iklan hanyalah sebuah pengganggu saat mengakses sebuah website (membuat website lebih lambat)

Muncullah sebuah model iklan baru yang lebih ramah terhadap pembaca konten namun tetap masih menguntungkan pengiklan dan pemilik website. Native Ad seperti sudah dijelaskan sebelumnya adalah model iklan yang bersembunyi diantara konten. Iklan ini memiliki beberapa keunggulan seperti:

  • Tidak membuat loading website lebih lambat karena tidak ada elemen tambahan yang perlu di loading
  • Menguntungkan pembaca karena dapat menikmati informasi yang tetap relevan
  • Menguntungkan pemilik website karena selain mendapat tambahan konten baru, juga mendapatkan uang
  • Menguntungkan pengiklan karena memiliki wadah yang lebih luas (teks yang lebih panjang) untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan.

Isu pada Native Ad

Native Ad bukanlah model iklan tanpa cela. Native Ad yang baik adalah iklan yang menguntungkan semua pihak, mulai dari pembaca hingga pengiklan. Jika salah satu pihak merasa dirugikan, maka berarti ada sesuatu yang salah.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemilik website dan pengiklan agar Native Ad bisa menjadi sebuah model iklan yang baik di sebuah website.

  • Sadari bahwa membuat native ad yang bagus itu memang benar-benar sulit dan tidak ada salahnya mencantumkan fakta bahwa sebuah konten disponsori oleh sebuah brand dengan mencantumkan tag, disclaimer atau semacamnya.
  • Jangan sampai mengubah gaya menulis pada konten yang disponsori brand. Native Ad yang baik bukanlah yang sepenuhnya dikendalikan brand, karena pemilik website adalah yang paling mengetahui karakteristik dari pembacanya.
  • Hindari memuat konten dengan native ad seputar hal-hal yang tidak penting. Pembaca bukanlah orang bodoh, mereka dengan cepat biasanya bisa membedakan antara konten biasa dengan native ad, maka jalan terbaik adalah membuat konten orisional yang melekat di pikiran membaca sekalipun konten tersebut sebenarnya berupa iklan.
  • Native ad yang baik bukan sekedar konten yang mempromosikan dan mengagungkan sebuah brand. Justru, native ad yang baik adalah yang juga mampu memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca.